DATA Pendidikan Madrasah DI INDONESIA 2004-2005

Gambaran Umum Data Pendidikan Pada Madrasah

Tahun Pelajaran 2004-2005

 

A.    Lembaga Madrasah

       Pendataan secara terpadu terhadap lembaga pendidikan yang bernaung dibawah Departemen Agama (Madrasah) sudah dimulai sejak tahun 1998.  Saat ini, pendataan tersebut ditangani oleh Bagian Data dan Informasi Pendidikan Setditjen Kelembagaan Agama Islam.  Jumlah lembaga yang berhasil didata dari tahun ketahun menunjukkan adanya peningkatan yang cukup pesat.  Perkembangan jumlah madrasah yang berhasil didata sepanjang tahun 2001 hingga 2004 disajikan pada gambar berikut:

       Gambar 1. Pertumbuhan jumlah lembaga madrasah dari tahun 2001 sampai 2004

      Jadi rata-rata jumlah madrasah sepanjang tahun 2001 sampai 2004 terjadi penambahan sebanyak 3% setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertumbuhan madrasah-madrasah baru bagi madrasah swasta, dan adanya penegrian madrasah dengan pertimbangan madrasah negeri menjadi madrasah model percontohan dan induk pembinaan    bagi    madrasah  swasta di lingkungannya,  disamping itu

beberapa madrasah yang baru terdata karena lokasi yang sulit terjangkau.  Gejala ini menunjukkan adanya pertumbuhan madrasah dimasa mendatang, pendidikan madrasah mampu menampung peningkatan jumlah peserta didik seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

      Pertumbuhan lembaga pendidikan madrasah, sebagian besar dari swadaya masyarakat yang didirikan dengan niat agar dapat memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anaknya untuk pendidikan umum dan agama.  Hal ini tampak jelas status madrasah 91,5% berstatus swasta sedangkan yang berstatus negeri atau dikelola oleh pemerintah hanya berjumlah 8,5%.  Perbandingan untuk seluruh tingkat disajikan secara lengkap pada gambar berikut:

Gambar 2. Perbandingan status madrasah pada tahun 2004.

      Dengan sistem pengelolaan yang dilakukan langsung oleh masyarakat ditambah dengan kondisi masyarakat dimana sebagian besar dari mereka berasal dari golongan kurang mampu, menyebabkan perkembangan madrasah tidak secepat sekolah umum.

B.    Peserta Didik (Siswa)

      Saat ini (kondisi Tahun Pelajaran 2004-2005) total siswa pada madrasah berjumlah 6.022.965 jiwa mulai dari tingkat MI hingga MA. Pada tingkat MI siswa berjumlah 3.152.665 atau 12.1 % dari jumlah penduduk usia sekolah 7 – 12 tahun, pada tingkat MTs siswa berjumlah 2.129.564 atau 15.9 dari jumlah penduduk usia sekolah 13 – 15 tahun, pada tingkat MA siswa berjumlah 744.736 atau 5,7 % dari jumlah penduduk usia sekolah 16 – 18 tahun. Perkembangan jumlah siswa dari tahun 2001 hingga 2004 pada gambar berikut ini :    

    Gambar 3. Perkembangan jumlah siswa sejak tahun 2001 hingga 2004.

Pertumbuhan tersebut secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.  Hal ini menunjukkan adanya indikasi keinginan masyarakat yang lebih tinggi untuk menyekolahkan anaknya dimadrasah dibandingkan sekolah umum.

      Dari rasio rombongan belajar (rasio jumlah siswa per rombongan belajar), terlihat bahwa rasio pada tingkat MTs lebih tinggi daripada MI dan MA. Rasio rombel pada tingkat MTs 33,9; pada tingkat MA 32,1 dan pada tingkat MI 21,3. 

      Daya serap madrasah terhadap siswa baru yang mendaftar termasuk tinggi.  Pada tingkat MI tahun 04/05 daya serap mencapai 97,0% dari jumlah pendaftar yang ada.  Hal ini berarti terdapat 3,0% dari pendaftar yang tidak dapat diserap oleh MI.  Sementara pada tingkat MA, daya serap pada tahun 04/05 91,3% yang berarti terdapat 8,7% dari para siswa calon pendaftar tidak dapat diserap.

      Beragamnya kualitas input siswa baru pada madrasah dapat dilihat pada tabel 2.9 sampai 2.11 (Jumlah Pendaftar dan Siswa Baru Berdasarkan Asal Sekolah).  Pada tingkat MI, sebagian besar (47,8%) siswa baru langsung dari orang tua yang berarti bahwa mereka tidak melalui pendidikan pra sekolah.  Siswa baru yang melalui pendidikan TK Islam sebanyak 40,0% dan sisanya sebanyak 12,3% melalui pendidikan TK Umum.

      Pada tingkat MTs, sebagian besar siswa baru berasal dari SD Negeri (mencapai 70,6%) disusul dari MI Swasta sebanyak 21,5%; MI Negeri sebanyak 5,6% dan SD swasta sebanyak 2,2%.  Pada tingkat MA, siswa baru sebagian besar berasal dari MTs Swasta (mencapai 47,6%) disusul SMP Negeri sebanyak 23,1%; MTs Negeri sebanyak 21,0% dan SMP Swasta sebanyak 8,3%.   Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat MTs dan MA juga banyak diminati oleh para lulusan dari sekolah umum.

      Lulusan MI, sebagian besar melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi mencapai 88.7% yang tersebar pada MTs, SMP dan Pondok Pesantren.  Lulusan yang melanjutkan MTs sebanyak 49.3%; SMP sebanyak 29.5% dan Pondok Pesantren sebanyak 9.9%.   Sedangkan yang yang lainnya sebanyak 10.4% tidak diketahui.

      Lulusan MTs yang melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi sebanyak 63.9% yang tersebar pada MA, SMA dan Pondok Pesantren.  Sebanyak 8.2% melakukan pendidikan informal melalui kursus-kursus dan bekerja, sedangkan yang lainnya sebanyak 27.9 tidak diketahui.    Lulusan yang melanjutkan MA sebanyak 39.5%; SMA sebanyak 37.8% dan Pondok Pesantren sebanyak 11.4%.  Lulusan MA yang melanjutkan Perguruan Tinggi yang terdaftar pada PTAI sebanyak 21.6% dan PTU sebanyak 14.0%.

      Dari penjelasan sebelumnya diperoleh informasi bahwa siswa baru pada tingkat MI sebagian besar adalah siswa yang yang belum melalui pendidikan pra sekolah.  Hal ini menjadi salah satu kendala yang menyebabkan tingkat pengulang pada MI masih tinggi. Jika dibandingkan dengan MTs dan MA, maka dapat dikatakan bahwa tingkat pengulang pada MI mencapai 2.6 % untuk  MTS 0.2% dan untuk MA 0.2 %, dari data diatas pengulang untuk MI mencapai 10  kali lebih tinggi dibandingkan MTs dan MA.   

      Secara umum bahwa tingkat putus sekolah pada tingkat MTs dan MA lebih tinggi dibandingkan MI.  Selain itu juga terlihat bahwa tingkat putus sekolah pada MTs dan MA ada sedikit kenaikan sedangkan pada MI terus menurun.  Salah satu penyebab tingginya tingkat putus sekolah pada MTs dan MA adalah kemampuan sosial ekonomi orangtua.  Orangtua siswa pada madrasah sebagian besar (mencapai 84%) berasal dari golongan kurang mampu (pendapatan dibawah UMR).  Hal inilah yang menyebabkan siswa mampu untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Tabel 1. Tingkat Putus Sekolah (%) setiap tingkat kelas pada Tahun Pelajaran 2003-2004.

  Kls 1 Kls2 Kls 3 Kls 4 Kls 5 Kls 6 Rata2
MI 0.87 0.66 0.68 0.73 0.88 0.61 0.74
MTs 1.74 1.57 0.92 1.43
MA 1.68 1.07 0.48 1.11

 

 

C.   Tenaga Pengajar (Guru)

      Guru yang mengajar pada madrasah dari tingkat MI hingga MA berjumlah 524.679 yang terdiri dari Guru PNS sebanyak 71.422 (13.61%) dan guru Non-PNS sebanyak 453.257 (86.39%). 

Banyaknya jumlah guru Non-PNS karena banyaknya lembaga madrasah yang berstatus swasta yang langsung dikelola oleh masyarakat. 

Gambar 4. Jumlah Guru berdasarkan Status Kepegawaian.

Kualifikasi pendidikan guru sampai saat ini masih relatif rendah.  Hal ini terlihat yang disajikan pada gambar dibawah ini.  Persebaran tingkat pendidikan guru menumpuk pada jenjang SLTA, D2 dan S1 atau lebih.  Pada tingkat MI, kualifikasi guru sebagian besar berada pada SLTA dan D2.  Tingkat MTs dan MA sebagian besar kualifikasi pendidikan guru sudah mencapai S1 atau lebih.

 

Gambar 5. Kualifikasi Pendidikan Guru.

      Kualifikasi guru MI yang sudah memenuhi standar (D2 atau lebih) berjumlah 49.5% dan yang belum memenuhi standar sebanyak 50.5%.  Pada tingkat MTs yang sudah memenuhi standar (D3 atau lebih) sebanyak 66.2% dan yang belum memenuhi standar sebanyak 33.8%.  Pada tingkat MA yang sudah memenuhi standar (S1 atau lebih) sebanyak 72.0% dan yang belum sebanyak 28.0%.

 

D.    Fasilitas Ruang Belajar

      Ruang kelas yang dalam kondisi baik (layak untuk digunakan) hanya 55,6% atau berjumlah sekitar 126.095 dari tingkat MI hingga MA.  Jumlah ini sangat tidak sesuai bila dibandingkan dengan jumlah rombongan belajar yang harus dilayani berjumlah 233.776.  Dari angka tersebut jelaslah bahwa hanya 53,9% rombongan belajar yang dapat dilayani dengan ruang kelas yang memadai.  Sedangkan sisanya sebanyak 46,1% rombongan belajar menggunakan ruang kelas yang kurang memadai.

 

Gambar 6. Kondisi Ruang Kelas.

     Dari data yang dikumpulkan terlihat bahwa jumlah madrasah yang menyelenggarakan pendidikan secara kombinasi (pagi dan siang) mencapai 5.9%.  Yang berarti terdapat sebanyak 2.376 madrasah terpaksa menggunakan waktu pagi sampai sore hari untuk menyelenggarakan pendidikan karena kekurangan ruang kelas.  Madrasah yang menyelenggarakan pendidikan pada siang hari sebanyak 14.1% dan sebanyak 80,0% madrasah menyelenggarakan pendidikan dipagi hari.

      Untuk mengatasi kondisi yang demikian, maka perlu peran pemerintah dalam memberikan bantuan kepada madrasah untuk mendirikan ruang kelas baru atau memperbaiki ruang kelas yang rusak. 

 

 

E.  Keuangan

     Keuangan madrasah pada tingkat MI, MTs dan MA yang berasal dari peran serta masyarakat dan orangtua sebesar 26,5%; 37,1% dan 34,6%.  Dari keuangan yang ada sebagian besar (mencapai 65%-68%) digunakan untuk gaji dan honor guru dan karyawan.  Sedangkan alokasi dana yang digunakan untuk proses belajar mengajar hanya 5,0%-5,9%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: