SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB DI MADRASAH / SEKOLAH

8 April 2010

SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB DI MADRASAH / SEKOLAH

Posted July 12th, 2009 by jamiels

PERKEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB
DI MADRASAH / SEKOLAH
PENDAHULUAN

Tradisi pesantren dan madrasah sangat kental dengan bacaan kitab-kitab salaf atau yang lebih dikenal dengan kitab kuning, dimana kitab ini membutuhkan ilmu alat yang disebut Ilmu nahwu dan sharraf untuk bisa memahaminya. Kurikulum yang dipakai adalah model sorogan, artinya seorang guru menjadi instruktur dan murid menyimak sesuai materi yang dibahas.
Dengan demikian kurikulum yang ada di madrasah atau pesantren perlu ada perubahan agar tidak ketinggalan dengan sekolah-sekolah yang bernuansa Islam lainnya.

PEMBAHASAN

Perkembangan Kurikulum Bahasa Arab di madrasah/Sekolah

A. Modernisasi Pendidikan dan Pesantren
Modernisasi paling awal dari sistem pendidikan di Indonesia, harus diakui, tidak bersumber dari kalangan kaum muslimin sendiri.sistem pendidikan modern pertama kali, yang pada gilirannya mempengaruhi sistem pendidikan Islam, justru diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Ini bermula dengan perluasan kesempatan bagi pribumi dalam paroan kedua abad 19 untuk mendapatkan pendidikan. Program ini dilakukan kolonial Belanda dengan mendirikan volkshoolen, sekolah rakyat, atau sekolah desa (nagari) dengan masa belajar selama 3 tahun, dibeberapa tempat di Indonesia sejak dasawarsa 1870-an. Pada tahun 1871, terdapat 263 sekolah dasar semacam itu dengan siswa sekitar 16.606 orang; dan menjelang 1892 meningkat menjadi 515 sekolah dengan sekitar 52.685 murid.
Poin penting dalam eksperimen Belanda dengan sekolah desa atau sekolah nagari, sejauh dalam kaitannya dengan sistem dan kelembagaan pendidikan Islam, transformasi sebagian surau di Minangkabau menjadi sekolah Nagari model Belanda. Memang berbeda dengan masyarakat muslim di Jawa umumnya yang memberikan respon dingin, banyak kalangan masyarakat muslim Minangkabau memberikan respon yang cukup baik terhadap sekolah desa. Perbedaan respon diantara masyarakat jawa dengan Minangkabau ini banyak berkaitan dengan watak kultural yang relatif berbeda diantara kedua masyarakat ini, dan juga berkaitan dengfan pengalaman historis yang relaitif berbeda baik dalam proses dan perkembangan Islamisasi maupun dalam berhadapan dengan kekuasaan Belanda.
Selain mendapatkan tantangan dari sistem pendidikan Belanda, pendidikan tradisional Islam juga harus berhadapan dengan sistem pendidikan moderen Islam. Dalam konteks pesantren, tantangan pertama dari sistem pendidikan belannda, menurut Sutan Takdir Alisyahbana, sistem pendidikan pesantern harus ditiggalkan atau, setidaknya, ditransformasikan sehingga mampu menghantarkan kaum Muslimin ke gerbang rasionalitas dan kemajuan. Jika pesantern dipertahankan, menurut Takdir, berarti mempertahankan keterbelkangan dan kejumudan kaum muslimin. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, pesantern tidak bergeming; tetap bertahn dalam kesendiriannya.

B.Madrasah dan semangat Desentralisasi pendidikan
Dilihat dari sejarahnya setidak-tidaknya ada dua faktor penting yang melatarbelakangi kemunculan madrasah, yaitu: pertama, adanya pandangan yang mengatakan bahwa sistem pendidikan islam tradisional dirasakan kurang bisa memenuhi kebutuhan pragmatis masyarakat; kedua, adanya kekhawatiran atas cepatnya perkembangan persekolahan belanda yang akan menimbulkan pemikiran sekular di masyarakat. Untuk menyeimbangkan perkembnaga sekularisme, maka masayrakat muslim terutama para reformis berusasha melakukan reformasi melalui upaya pengembangan pendidikan dan pemberdayaan madrasah.
Kata ”madrasah” adalah isim makan dari kata : darasa – yadrusu-darsan wa durusan wa dirasatan, yang berarti ; terhapus,. Hilang bekasnya, menghapus, menjadikan usang, melatih, mempelajari ( al-munjid, 1986). Dilihat dari pengertian ini maka madrasah berarti merupakan tempat untuk mencerdaskan para peserta didik, menghilangkan ketidak tahuan atau memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan mereka sesuai denagn bakat, minat dan kemampuannya. Pengetahuan dan keterampilan seserang akan cepat usang selaras dengan percepatan kemajuan Iptek dan perkembangan zaman, sehingga madrasah pada dasarnya sebagai wahana untuk merngembangkan kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbarui pengetahuan, sikap dan keterampilan secara berkelanjutan, agar tetap up to date dan tidak cepat usang.

C. Perlunya Madrasah Merespons Tantangan Pendidikan nasional.
Secara umum pendidikan nasional sedang menghadapi dua tantangan yang berat, yaitu tantangan internal dan eksternal. Secara internal, kita telah dihadapkan pada hasil-hasil studi internasioal yang selalu menempatkan kita dalam posisi juru kunci untuk pendidikan dan ranking atas untuk korupsi.
Menghadapi kedua tantangan tersebut, maka perubahan, inovasi dan pembaruan merupakan ”kata kunci” yang perlu dijadikan titik tolak dalam mengembangkan pendidikan nasional pada umumnya. Pengembangan tersebut tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah pusat/daerah, teatpi memerlukan masukan-masukan dan gerakan bersama antar semua institusi, baik institusi pendidikan (dasar, menengah dan tinggi), institusi ekonomi, politik, sosial, budaya, agama serta masyarakat pada umumnya, untuk mendukung terwujudnya cita-cita tersebut.
Untuk memanaj perubahan tersebut perlu bertolak dari visi yang jelas, yang kemudian dijabarkan dalam misi, dan didukung oleh skill, intensif, sumber daya (fisik dan nono fisik, termasuk SDM), untuk selanjutnya diwujudkan dalam rencana kerja yang jelas. Dengan demikian, akan terjadilah perubahan.jika salah satu aspek saja ditinggalkan, maka akan mempunyai ekses tertentu. Misalnya jika visi ditinggalkan atau dalam pengembangan madrasah tidak bertolak dari visi yang jelas, maka akan berakibat hancur.
Perubahan atau inovasi itu sendiri memang hanyalah sebagai alat bukan tujuan. Apa yang dituju oleh perubahan itu adalah penigkatan mutu pendidikan, sehingga masing-masing sekolah/madrasah dituntut untuk menyelenggarakan dan mengelola pendidikan secara serius dan tidak sembrono, ia harus mampu memberikan quality assurance ( jaminan mutu), mampu memberikan layanan yang prima, serta mampu bertanggung jawabatas kinerjanya kepada peserta didik, orang tua, dan masyarakat sebagai stakeholders.

D. Menyoroti Keberadaan kurikulum Madrasah.
Pengembangan pendidikan madrasah tidak dapat ditangani secara parsial atau setengah-setengah, tetapi memerlukan pemikiran pengembangan yang utuh, terutama ketika dihadapkan pada kebijakan pembangunan nasional bidang pendidikan yang mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah ( baca penjelasan UU. No. 20/2003 tentang Sisdiknas).
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pada periode H.A. Mukti Ali ( mantan menteri Agama RI), ia menawarkan konsep alternatif pengembangan madrasah melalui kebijakan SKB 3 menteri, yang berusaha menyejajarkan kualitas madrasah dengan non-madrasah, derngan porsi kurikulum 70% umum dan 30 % agama. Pada periode Menteri Agama Munaw2ir Sadzali menawarkan konsep MAPK. Dan pada periode menteri Agama RI. H. Tarmizi Taher Menawarkan konsep madrasah sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam.
Untuk kedangkalan pengetahuan agama lulusan madrasah, Menteri Agama Munawir Sadzali mencoba menawarkan MAPK ( Madrasah Aliyah Program Khusus). Hal ini dimaksudkan untuk menjawab problem kelangkaan ulama dan/atau kelangkaan umat yang menguasai kitab-kitab berbahasa Arab serta ilmu-ilmu keislaman.
Sedangkan menteri Agama Tarmizi Taher Mencoba menawarkan kebijakan dengan jargon ” madrasah sebagi sekolah umum yang berciri khas agama Islam”, yang muatan kurikulumnya sama dengan sekolah non-madrasah. Kebijakan ini ditindak lanjuti oleh Menteri Agama berikutnya.bahkan Malik Fajar Memantapkan eksistensi madraasah untuk memenuhi tiga tuntutan minimal dalam penigkatan kualitas madrasah, yaitu (1) bagaimana menjadikan madrasah sebagai wahana untuk membina ruh atau praktik hidup keislaman; (2) bagaimana memperkokoh keberadaan madrasah sehingga sederajat dengan sistem sekolah ; (3) bagaimana madrasah mampu merespons tuntutan masa depan guna mengantisipasi perkembangan ipteks dan era globalisasi.

E. Pengembangann kurikulum Madrasah ( sebuah model alternatif)
Menjadikan madrasah sebagai wahana untuk membina ruh dan praktik hidup keislaman, terutama dalam mengantisipasi peraadaban global, adalah merupakan tawaran yanag selalu aktual. Disisi lain kurikulum madrasah perlu dikembangkan secara terpadu, dengan menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai petunjuk dan sumber konsultasi bagi pengembangan berbagai mata pelajaran umum, yang operasionalnya dapat dikembangkan dengan cara mengimplisitkan ajaran dan nilai-nilai islam kedalam bidang studi Ips, IPA dan sebagainya, sehingga kesan dikotomis tidak terjadi.model pembelajarannya bisa dilaksanakan melalui team teaching , yakni guru bidang IPS, IPA atau lainnya bekerjasama dengan guru pendidikan agama Islam untuk menyusun disain pembelajaran secar konkret dan detail, untuk diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. ,

F. Pemanfaatan media dalam menunjang kemahiran berbahasa arab siswa madrasah.
Macam-macam media yang digunakan. Secara umum media pengajaran bahasa dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu media pandang (visual aids), media dengar (audio aids) dan media dengar-pandang (audio-visual aids). Media pandang dapat berupa benda-benda alamiah, orang dan kejadian; tiruan benda-benda alamiah, orang dan kejadian; dan gambar benda-benda alamiah, orang dan kejadian.
Penggunaan laboratorium bahasa sebagai alat bantu pengajaran bahasa telah diakui efektifitasnya oleh para pakar pengajaran bahasa. Akan tetapi, untuk sekolah¬-sekolah di Indonesia pada umumnya, terutama di wilayah kabupaten, peralatan ini sering kali hanya merupakan angan-angan yang sulit dicapai karena harganya yang relatif tinggi.
Media pengajaran bahasa yang paling lengkap adalah media dengar pandang, karena dengan media ini terjadi proses saling membantu antara indra dengar dan indra pandang. Yang termasuk jenis media ini adalah televisi, VCD, komputer dan Laboratorium Bahasa yang mutakhir. Dengan televisi yang menggunakan parabola dapat diakses siaran berbahasa Arab dari berbagai negara, seperti Arab Saudi, Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Pakistan. Siaran itu kemudian dapat direkam dengan menggunakan CD Writer sehinga dapat diputar berulang kali sebagai alat peraga.
VCD juga merupakan media pengajaran bahasa yang cukup efektif digunakan. Alat ini mirip dengan tape recorder hanya lebih lengkap. Tape recorder hanya didengar, sementara VCD didengar dan dilihat. Saat ini telah banyak program-program pengajaran bahasa Arab yang dikemas dalam bentuk CD, namun untuk mengoperasikannya tidak cukup dengan VCD tetapi dengan komputer yang dilengkapi dengan multimedia. Dalam konteks pengajaran ALA, telah banyak program pengajaran ALA yang dikemas dalam bentuk CD, misalnya: Alif-Ba-Ta, Al-Qamus al-mushowwar li As-Shigar, Bustan Ar-Raudloh, Juha 1-2, Jism al-Insan, Hadiqah al-Arqam, Masrahiyah al-Huruf al-Arabiyah, Ta’lim al-Lughah al-Arabiyah, ‘Alam al-Tajarub li as-Sigar, Jazirah al-Barka:n, dan Mausuah al-Musabaqah wa al-Algha:z serta masih banyak lagi.

KESIMPULAN
Salah satu kelemahan mendasar sistem pengajaran bahasa Arab di kalangan non-Arab adalah lemahnya kurikulum pengajaran yang diterapkan. Dalam segenap aspeknya, terutama visi dan metodologi, kurikulum yang ada pada umumnya mengajarkan bahasa Arab dengan orientasi tradisonal, yakni demi tujuan-tujuan keagamaan dengan aksentuasi pada aspek penguasaan grammar dan keahlian menterjemah. Untuk masa sekarang ini, sistem pengajaran dengan model kurikulum seperti ini tidak lagi relevan dan oleh karenanya harus segera dirubah. Sebab, bahasa Arab sebagai bahasa internasional tidak lagi hanya berfungsi sebatas bahasa agama, akan tetapi telah menjadi media komunikasi seluruh aspek kehidupan. Konsekuensinya, bahasa Arab tidak lagi cukup hanya dikuasai secara pasif dalam bentuk penguasaan grammar dan keahlian menterjemah, akan tetapi harus dikuasi secara komunikatif dalam pengertian yang lebih luas, baik lisan maupun tulisan. Untuk itu, pengenalan- sebagaimana tujuan tulisan ini- serta pengembangan kurikulum yang mendukung sistem pengajaran bahasa Arab yang lebih modern menjadi sebuah keharusan.

DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam. Bandung: Penerbit Nuansa.

Azyumardi azra. 1997. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi menuju millennium baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Muhaimin. 2005. Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

PAYUNG HUKUM PENDIDIKAN MADRASAH

8 April 2010

 

Judul Dokumen Kategori Tahun
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi guru Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2007 Tentang Penyaluran Tunjangan Profesi Bagi Guru Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 42 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Dosen Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 47 Tahun 2007 Tentang Penetapan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan Peraturan Pemerintah (PP) 2007
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 057/O/2007 Tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 122/P/2007 Tentang Penetapan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara Pendidikan Profesi Bagi Guru Dalam Jabatan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan PendidikanDasar dan Menengah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2007Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007
Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan / atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan / atau Hibah Luar Negeri Peraturan Pemerintah (PP) 2006
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2006 Tentang Tunjangan Tenaga Kependidikan Peraturan Pemerintah (PP) 2006
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2006
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2006
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2006
Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia Peraturan Presiden 2005
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan Pemerintah (PP) 2005
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 Tentang Hibah Kepada Daerah Peraturan Pemerintah (PP) 2005
Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Undang-Undang 2005
Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 Tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon 1 Kementrian Negara Republik Indonesia Peraturan Presiden 2005
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 Tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga Peraturan Pemerintah (PP) 2004
Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang 2003
Keputusan Presiden Nomor 177 Tahun 2000 Tentang Susunan Organisasi Dan Tugas Departemen Keputusan Presiden (Kepres) 2000
Surat Edaran Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Nomor E.IV/PP.00.6/ED/488/97 Tanggal 21 November 1997 Tentang Pengaturan Induk KKM (Kelompok Kerja Madrasah) Madrasah Aliyah Keagamaan Swasta Surat Edaran Dirjen Pendidikan Agama Islam 1997
Surat Edaran Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Nomor E.IV/PP.00.6/ED/488/97 Tanggal 21 November 1997 Tentang Pengaturan Induk KKM (Kelompok Kerja Madrasah) Madrasah Aliyah Keagamaan Swasta Surat Edaran Dirjen Pendidikan Agama Islam 1997
Surat Edaran Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Nomor E.IV/PP.00.6/ED/381/97 Tanggal 29 Agustus 1997 Tentang Struktur Organisasi Madrasah Aliyah Program Keterampilan dan Keagamaan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Agama Islam 1997
Surat Edaran Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Nomor E/PP.00.6/J/54/97 Tanggal 10 Januari 1997 Tentang Penyelenggaraan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Surat Edaran Dirjen Pendidikan Agama Islam 1997
Keputusan Menteri Agama No. 426 Tahun 1995 tentang Honorarium Guru Tidak Tetap dan Honorarium Kelebihan Jam Mengajar Guru Tetap Pada Madrasah Negeri di Lingkungan Departemen Agama Keputusan Menteri Agama (KMA) 1995
Keputusan Menteri Agama Nomor 374 Tahun 1993 Tentang Kurikulum Madrasah Aliyah Kegamaan Keputusan Menteri Agama (KMA) 1993
Keputusan Menteri Agama Nomor 18/E/93 Tentang Penugasan Kepada Sub- Direktorat Pendidikan Guru Agama dan BPGA Direktorat Pembinaan Guru Agama Islam untuk Pelaksanaan Sebagian Tugas Pembinaan Guru di Lingkungan Departemen Agama Keputusan Menteri Agama (KMA) 1993
Keputusan Menteri Agama Nomor 371 Tahun 1993 Tentang Madrasah Aliyah Kegamaan Keputusan Menteri Agama (KMA) 1993
Keputusan Menteri Agama Nomor 65 Tahun 1992 Tentang Pemberian Kuasa Pengalihan Tugas Pegawai dan Guru dari Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Keputusan Menteri Agama (KMA) 1992
Keputusan Menteri Agama Nomor 137 Tahun 1991 Tentang Pembukaan dan Penegerian Madrasah Keputusan Menteri Agama (KMA) 1991
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah Peraturan Pemerintah (PP) 1990
Keputusan Menteri Agama Nomor 137 Tahun 1990 Tentang Hari-hari Libur untuk Tahun 1991 Keputusan Menteri Agama (KMA) 1990
Keputusan Menteri Agama Nomor 190 Tahun 1990 Tentang Konsultasi SPP-DPP Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan Pendidikan Guru Agama Tahun 1990 Keputusan Menteri Agama (KMA) 1990
Keputusan Menteri Agama Nomor 310 Tahun 1989 Tentang Status Madrasah Swasta di Lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Keputusan Menteri Agama (KMA) 1989
Keputusan Menteri Agama Nomor 335 Tahun 1989 Tentang Uraian Pekerjaan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama Keputusan Menteri Agama (KMA) 1989
Keputusan Menteri Agama Nomor 136 Tahun 1989 Tentang Hari-hari Libur untuk Tahun 1990 Keputusan Menteri Agama (KMA) 1989
Keputusan Menteri Agama Nomor 40 Tahun 1988 Tentang Ijazah Madrasah dan PGAN di Lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Keputusan Menteri Agama (KMA) 1988
Keputusan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 1987 Tentang Penyelenggaraan Madrasah Aliyah Program Khusus Keputusan Menteri Agama (KMA) 1987
Keputusan Menteri Agama Nomor 193 Tahun 1987 Tentang Evaluasi Belajar Tahap Akhir Pada Madrasah dan Pendidikan Guru Agama Negeri Keputusan Menteri Agama (KMA) 1987
Keputusan Negara Pendayaan Aparatur Negara Nomor 1 Tahun 1997 tentang Persamaan Eselon Bagi Jabatan Kepala Sekolah Swasta di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Agama Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara 1987
Keputusan Menteri Agama Nomor 193 Tahun 1987 Tentang Evaluasi Belajar Tahap Akhir Pada Madrasah dan Pendidikan Guru Agama Negeri Keputusan Menteri Agama (KMA) 1987
Keputusan Menteri Agama Nomor 45 Tahun 1987 Tentang Penyesuaian Struktur Program Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Madrasah Tsanawiyah Negeri Keputusan Menteri Agama (KMA) 1987
Keputusan Menteri Agama Nomor 93 Tahun 1985 Tentang Pembentukan Panitia Pengawas Ujian Akhir Sekolah-sekolah Agama Negeri Pusat Tahun Ajaran 1985/1986 Keputusan Menteri Agama (KMA) 1985
Keputusan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 1985 Tentang Pemberian Wewenang Mengesahkan Salinan Atau Fotocopy Ijazah Surat Tanda Tamat Belajar (STTB/Tanda Lulus dan Surat Keterangan Pengganti Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB)/Tanda Lulus di Lingkungan Departemen Agama Keputusan Menteri Agama (KMA) 1985
Keputusan Menteri Agama Nomor 99 Tahun 1984 Tentang Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah (Madrasah Tingkat Dasar) Keputusan Menteri Agama (KMA) 1984
Keputusan Menteri Agama Nomor 100 Tahun 1984 Tentang Kurikulum Madrasah Tsanawiyah (Madrasah Menengah Tingkat Pertama) Keputusan Menteri Agama (KMA) 1984
Keputusan Menteri Agama Nomor 101 Tahun 1984 Tentang Kurikulum Madrasah Aliyah (Madrasah Menengah Tingkat Atas) Keputusan Menteri Agama (KMA) 1984
Keputusan Menteri Agama Nomor 102 Tahun 1984 Tentang Kurikulum Pendidikan Guru Agama Negeri Keputusan Menteri Agama (KMA) 1984
Instruksi Menteri Agama Nomor 5 Tahun 1984 Tentang Pelaksanaan Keputusan Menteri Agama Nomor 57 Tahun 1980 Tentang Pembuatan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Pegawai Negeri Sipil dalam Lingkungan Departemen Agama Instruksi Menteri Agama (IMA) 1984
Keputusan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 1978 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Madrasah Tsanawiyah Negeri Keputusan Menteri Agama (KMA) 1978
Keputusan Menteri Agama Nomor 17 Tahun 1978 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Madrasah Aliyah Negeri Keputusan Menteri Agama (KMA) 1978
Keputusan Menteri Agama Nomor 75 Tahun 1976 Tentang Kurikulum Madrasah Aliyah Keputusan Menteri Agama (KMA) 1976
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1971 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan Undang-Undang 1971
Keputusan Menteri Agama Nomor 213 Tahun 1970 Tentang Penghentian Penegerian Sekolah/Madrasah2 Swasta dan Pendirian/Pembukaan Sekolah-2/Madrasah Negeri dalam Lingkungan Departemen Agama Keputusan Menteri Agama (KMA) 1970
Undang Undang Dasar 1945

DATA Pendidikan Madrasah DI INDONESIA 2004-2005

8 April 2010

Gambaran Umum Data Pendidikan Pada Madrasah

Tahun Pelajaran 2004-2005

 

A.    Lembaga Madrasah

       Pendataan secara terpadu terhadap lembaga pendidikan yang bernaung dibawah Departemen Agama (Madrasah) sudah dimulai sejak tahun 1998.  Saat ini, pendataan tersebut ditangani oleh Bagian Data dan Informasi Pendidikan Setditjen Kelembagaan Agama Islam.  Jumlah lembaga yang berhasil didata dari tahun ketahun menunjukkan adanya peningkatan yang cukup pesat.  Perkembangan jumlah madrasah yang berhasil didata sepanjang tahun 2001 hingga 2004 disajikan pada gambar berikut:

       Gambar 1. Pertumbuhan jumlah lembaga madrasah dari tahun 2001 sampai 2004

      Jadi rata-rata jumlah madrasah sepanjang tahun 2001 sampai 2004 terjadi penambahan sebanyak 3% setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertumbuhan madrasah-madrasah baru bagi madrasah swasta, dan adanya penegrian madrasah dengan pertimbangan madrasah negeri menjadi madrasah model percontohan dan induk pembinaan    bagi    madrasah  swasta di lingkungannya,  disamping itu

beberapa madrasah yang baru terdata karena lokasi yang sulit terjangkau.  Gejala ini menunjukkan adanya pertumbuhan madrasah dimasa mendatang, pendidikan madrasah mampu menampung peningkatan jumlah peserta didik seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

      Pertumbuhan lembaga pendidikan madrasah, sebagian besar dari swadaya masyarakat yang didirikan dengan niat agar dapat memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anaknya untuk pendidikan umum dan agama.  Hal ini tampak jelas status madrasah 91,5% berstatus swasta sedangkan yang berstatus negeri atau dikelola oleh pemerintah hanya berjumlah 8,5%.  Perbandingan untuk seluruh tingkat disajikan secara lengkap pada gambar berikut:

Gambar 2. Perbandingan status madrasah pada tahun 2004.

      Dengan sistem pengelolaan yang dilakukan langsung oleh masyarakat ditambah dengan kondisi masyarakat dimana sebagian besar dari mereka berasal dari golongan kurang mampu, menyebabkan perkembangan madrasah tidak secepat sekolah umum.

B.    Peserta Didik (Siswa)

      Saat ini (kondisi Tahun Pelajaran 2004-2005) total siswa pada madrasah berjumlah 6.022.965 jiwa mulai dari tingkat MI hingga MA. Pada tingkat MI siswa berjumlah 3.152.665 atau 12.1 % dari jumlah penduduk usia sekolah 7 – 12 tahun, pada tingkat MTs siswa berjumlah 2.129.564 atau 15.9 dari jumlah penduduk usia sekolah 13 – 15 tahun, pada tingkat MA siswa berjumlah 744.736 atau 5,7 % dari jumlah penduduk usia sekolah 16 – 18 tahun. Perkembangan jumlah siswa dari tahun 2001 hingga 2004 pada gambar berikut ini :    

    Gambar 3. Perkembangan jumlah siswa sejak tahun 2001 hingga 2004.

Pertumbuhan tersebut secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.  Hal ini menunjukkan adanya indikasi keinginan masyarakat yang lebih tinggi untuk menyekolahkan anaknya dimadrasah dibandingkan sekolah umum.

      Dari rasio rombongan belajar (rasio jumlah siswa per rombongan belajar), terlihat bahwa rasio pada tingkat MTs lebih tinggi daripada MI dan MA. Rasio rombel pada tingkat MTs 33,9; pada tingkat MA 32,1 dan pada tingkat MI 21,3. 

      Daya serap madrasah terhadap siswa baru yang mendaftar termasuk tinggi.  Pada tingkat MI tahun 04/05 daya serap mencapai 97,0% dari jumlah pendaftar yang ada.  Hal ini berarti terdapat 3,0% dari pendaftar yang tidak dapat diserap oleh MI.  Sementara pada tingkat MA, daya serap pada tahun 04/05 91,3% yang berarti terdapat 8,7% dari para siswa calon pendaftar tidak dapat diserap.

      Beragamnya kualitas input siswa baru pada madrasah dapat dilihat pada tabel 2.9 sampai 2.11 (Jumlah Pendaftar dan Siswa Baru Berdasarkan Asal Sekolah).  Pada tingkat MI, sebagian besar (47,8%) siswa baru langsung dari orang tua yang berarti bahwa mereka tidak melalui pendidikan pra sekolah.  Siswa baru yang melalui pendidikan TK Islam sebanyak 40,0% dan sisanya sebanyak 12,3% melalui pendidikan TK Umum.

      Pada tingkat MTs, sebagian besar siswa baru berasal dari SD Negeri (mencapai 70,6%) disusul dari MI Swasta sebanyak 21,5%; MI Negeri sebanyak 5,6% dan SD swasta sebanyak 2,2%.  Pada tingkat MA, siswa baru sebagian besar berasal dari MTs Swasta (mencapai 47,6%) disusul SMP Negeri sebanyak 23,1%; MTs Negeri sebanyak 21,0% dan SMP Swasta sebanyak 8,3%.   Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat MTs dan MA juga banyak diminati oleh para lulusan dari sekolah umum.

      Lulusan MI, sebagian besar melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi mencapai 88.7% yang tersebar pada MTs, SMP dan Pondok Pesantren.  Lulusan yang melanjutkan MTs sebanyak 49.3%; SMP sebanyak 29.5% dan Pondok Pesantren sebanyak 9.9%.   Sedangkan yang yang lainnya sebanyak 10.4% tidak diketahui.

      Lulusan MTs yang melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi sebanyak 63.9% yang tersebar pada MA, SMA dan Pondok Pesantren.  Sebanyak 8.2% melakukan pendidikan informal melalui kursus-kursus dan bekerja, sedangkan yang lainnya sebanyak 27.9 tidak diketahui.    Lulusan yang melanjutkan MA sebanyak 39.5%; SMA sebanyak 37.8% dan Pondok Pesantren sebanyak 11.4%.  Lulusan MA yang melanjutkan Perguruan Tinggi yang terdaftar pada PTAI sebanyak 21.6% dan PTU sebanyak 14.0%.

      Dari penjelasan sebelumnya diperoleh informasi bahwa siswa baru pada tingkat MI sebagian besar adalah siswa yang yang belum melalui pendidikan pra sekolah.  Hal ini menjadi salah satu kendala yang menyebabkan tingkat pengulang pada MI masih tinggi. Jika dibandingkan dengan MTs dan MA, maka dapat dikatakan bahwa tingkat pengulang pada MI mencapai 2.6 % untuk  MTS 0.2% dan untuk MA 0.2 %, dari data diatas pengulang untuk MI mencapai 10  kali lebih tinggi dibandingkan MTs dan MA.   

      Secara umum bahwa tingkat putus sekolah pada tingkat MTs dan MA lebih tinggi dibandingkan MI.  Selain itu juga terlihat bahwa tingkat putus sekolah pada MTs dan MA ada sedikit kenaikan sedangkan pada MI terus menurun.  Salah satu penyebab tingginya tingkat putus sekolah pada MTs dan MA adalah kemampuan sosial ekonomi orangtua.  Orangtua siswa pada madrasah sebagian besar (mencapai 84%) berasal dari golongan kurang mampu (pendapatan dibawah UMR).  Hal inilah yang menyebabkan siswa mampu untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Tabel 1. Tingkat Putus Sekolah (%) setiap tingkat kelas pada Tahun Pelajaran 2003-2004.

  Kls 1 Kls2 Kls 3 Kls 4 Kls 5 Kls 6 Rata2
MI 0.87 0.66 0.68 0.73 0.88 0.61 0.74
MTs 1.74 1.57 0.92 1.43
MA 1.68 1.07 0.48 1.11

 

 

C.   Tenaga Pengajar (Guru)

      Guru yang mengajar pada madrasah dari tingkat MI hingga MA berjumlah 524.679 yang terdiri dari Guru PNS sebanyak 71.422 (13.61%) dan guru Non-PNS sebanyak 453.257 (86.39%). 

Banyaknya jumlah guru Non-PNS karena banyaknya lembaga madrasah yang berstatus swasta yang langsung dikelola oleh masyarakat. 

Gambar 4. Jumlah Guru berdasarkan Status Kepegawaian.

Kualifikasi pendidikan guru sampai saat ini masih relatif rendah.  Hal ini terlihat yang disajikan pada gambar dibawah ini.  Persebaran tingkat pendidikan guru menumpuk pada jenjang SLTA, D2 dan S1 atau lebih.  Pada tingkat MI, kualifikasi guru sebagian besar berada pada SLTA dan D2.  Tingkat MTs dan MA sebagian besar kualifikasi pendidikan guru sudah mencapai S1 atau lebih.

 

Gambar 5. Kualifikasi Pendidikan Guru.

      Kualifikasi guru MI yang sudah memenuhi standar (D2 atau lebih) berjumlah 49.5% dan yang belum memenuhi standar sebanyak 50.5%.  Pada tingkat MTs yang sudah memenuhi standar (D3 atau lebih) sebanyak 66.2% dan yang belum memenuhi standar sebanyak 33.8%.  Pada tingkat MA yang sudah memenuhi standar (S1 atau lebih) sebanyak 72.0% dan yang belum sebanyak 28.0%.

 

D.    Fasilitas Ruang Belajar

      Ruang kelas yang dalam kondisi baik (layak untuk digunakan) hanya 55,6% atau berjumlah sekitar 126.095 dari tingkat MI hingga MA.  Jumlah ini sangat tidak sesuai bila dibandingkan dengan jumlah rombongan belajar yang harus dilayani berjumlah 233.776.  Dari angka tersebut jelaslah bahwa hanya 53,9% rombongan belajar yang dapat dilayani dengan ruang kelas yang memadai.  Sedangkan sisanya sebanyak 46,1% rombongan belajar menggunakan ruang kelas yang kurang memadai.

 

Gambar 6. Kondisi Ruang Kelas.

     Dari data yang dikumpulkan terlihat bahwa jumlah madrasah yang menyelenggarakan pendidikan secara kombinasi (pagi dan siang) mencapai 5.9%.  Yang berarti terdapat sebanyak 2.376 madrasah terpaksa menggunakan waktu pagi sampai sore hari untuk menyelenggarakan pendidikan karena kekurangan ruang kelas.  Madrasah yang menyelenggarakan pendidikan pada siang hari sebanyak 14.1% dan sebanyak 80,0% madrasah menyelenggarakan pendidikan dipagi hari.

      Untuk mengatasi kondisi yang demikian, maka perlu peran pemerintah dalam memberikan bantuan kepada madrasah untuk mendirikan ruang kelas baru atau memperbaiki ruang kelas yang rusak. 

 

 

E.  Keuangan

     Keuangan madrasah pada tingkat MI, MTs dan MA yang berasal dari peran serta masyarakat dan orangtua sebesar 26,5%; 37,1% dan 34,6%.  Dari keuangan yang ada sebagian besar (mencapai 65%-68%) digunakan untuk gaji dan honor guru dan karyawan.  Sedangkan alokasi dana yang digunakan untuk proses belajar mengajar hanya 5,0%-5,9%.

INFO KEMAJUAN MADRASAH

8 April 2010
Visi Besar Majukan PendidikanOleh webmaster, 2008-06-12

Pendidikan menjadi kata kunci keberhasilan sebuah bangsa. Jika dunia pendidikan maju, maka bangsa juga akan maju. Demikian pula sebaliknya.Namun kenyataan yang ironis masih menghantui dunia pendidikan di Indonesia. Prasarana dan sarana pendidikan yang kurang memadai, kualitas dan kompetensi guru yang belum, optimal, minimnya anggaran pendidikan, serta tingginya angka putus sekolah karena kemiskinan, adalah sederet masalah yang membelit dunia pendidikan kita.

Sumber : republika.co.id       Dibaca : 599 kali



Pendidikan Keagamaan Hadapi Kendala SeriusOleh webmaster, 2008-06-12

YOGYAKARTA–Menteri Agama M Maftuh Basyuni menegaskan, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia sangat berkepentingan untuk memperkenalkan Islam sebagai agama Rahmatan lil Alamin. ”Kami merasa berkewajiban menjawab tuduhan zalim yang menuding Islam sebagai agama terorisme,” kata Menteri Agama saat memberi sambutan atas penganugerahan doktor honoris causa kepada Grand Mufti Dr Ahmad Badruddin Hassoun di Universitas Islam Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Kamis (22/5).

Sumber : repblika.co.id       Dibaca : 357 kali



Kanwil Depag Jabar : Waspada Ada Oknum Penipu yang Seolah-olah Akan Memberi BantuanOleh webmaster, 2008-06-06

Bandung, 3/6 (Pinmas)–Kepala Kantor Wilayah Dep.Agama Propinsi Jawa Barat Muhaimin Lutfie meminta agar pengurus yayasan, pengelola madrasah dan ponpes yang berada di wilayah Jawa Barat untuk berhati-hati dengan adanya oknum-oknum yang melakukan penipuan dengan modus operandi melalui telepon mengaku Kanwil Depag Jabar yang akan memberikan bantuan untuk yayasan, madrasah dan ponpes dengan terlebih dulu mentransfer sejumlah dana ke nomor rekening tertentu.

Sumber : depag.go.id       Dibaca : 3310 kali



Membalik Zaman, MTs Makin DiminatiOleh webmaster, 2008-06-06

TEMPEL (KR) – Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) dulu selalu terpinggirkan dan banyak tidak diminati dengan alasan kuno, ndesa, tertutup, berdaya saing rendah dan sebagainya. Tapi kini seiring perkembangan zaman dengan kurikulum yang sama seperti SMP dengan nilai tambah volume lebih, yakni dalam bidang pendidikan agama dan diperkuat bahasa Arab serta bahasa Inggris, MTs pun kebanjiran siswa.

Sumber : kr.co.id : Kedaulatan Rakyat Online       Dibaca : 596 kali



Madrasah Bertaraf Internasional Akan Dibangun di PekalonganOleh webmaster, 2008-06-06

Pekalongan (GP-Ansor): Kabupaten Pekalongan terpilih sebagai lokasi pendirian madrasah bertaraf internasional. Pembangunan itu akan menjadi pionir di Jateng dan rencananya dicanangkan langsung oleh Menteri Agama, Maftuh Basyuni Hal itu diketahui dari audiensi Kepala Kantor Depag Jateng H Masyhudi dengan Bupati Hj Siti Qomariyah di Rumah Dinas Bupati, Rabu.

Sumber : gp-ansor.org       Dibaca : 749 kali

INFO BEASISWA 2010, 2011

8 April 2010
  • Beasiswa Australia Endeavour Awards 2010/2011
  • Beasiswa Doktoral ke Singapore dari A*STAR
  • Ford Foundation International Fellowships 2010
  • Beasiswa CIMB Niaga 2010, Studi ke Malaysia!
  • Beasiswa Pendidikan, Ekonomi Lemah & OSN dari ITB
  • 2010 Competitive Grant Yayasan Institut Danone Indonesia
  • Beasiswa S2 University of Manchester
  • Beasiswa Belajar ke Italia 2010/2011 oleh Pemerintah Italia
  • Program Beasiswa S1 dari Prasetiya Mulya & Metro TV
  • Beasiswa Prestasi Bosowa Foundation 2010 untuk Pelajar SMA
  • ekodok.com/…/Beasiswa+S2+Depag+Departemen+Agama+2009+2010
  • SOAL UTS GANJIL B.JAWA KLS VIII SMP/MTS

    8 April 2010

     


    1. A.      Pilihen wangsulan sing bener kanthi menehi tanda ping (x) ingkang aksara a,b,c utawa d.
      1. Fathkur lunga menyang kutha seperlu boro golek gawean kanthi rekasa  Fatkhur kena diarani ….
        1. Urban                     c. Transito            
        2. Migran                   d. Transmigrasi

     

    1. Sing diarani program transmigrasi iku jan-jane duwe tujuan ….
      1. Kanggo nengteake duwet negara
      2. Kanggo ngrataake penyebaraning pendhudhuk
      3. Kanggo mindah wong wong mlarat ing kutha
      4. Kanggo tenaga ngethoki alas ing sumatra

     

    1. Ing ngisor iki tembung kang lumrah kanggo ukara kang ngrembug bab kependhudhukan yaiku ….
      1. Pangolahe siti       c. Nggaru sawah
      2. Puskesmas            d. Urbanisasi

     

    1. Kabeh mangkat bebarengan tranmigrasi menyang sitiung jalaran desane kanggo proyek wadhuk. Nanging Pak bei pilih tidhak lan mangkat dhewe kanthi ragat lan baya dhewe. Pak bei diarani transmigrasi
      1. Bedhol desa          c. Umum              
      2.  Swakarsa             d. Bebarengan

     

    1. ……. Kebenaran tenan aku !

    Tembung penguwuh sing trep yaiku ….

    1. Ayo                        c. Wah  
    2.  Aduh                     d. Nah

     

    1. “Tobat – tobat” kalebu tembung penguwuh dipocapake kanggo nglahirake rasa ….
      1. Gumun banget     c. Seneng banget
      2.  Anyel banget       d. Gemes banget

     

    1. Aku lan kowe muga muga diparingi pepiling dining sing kuasa diparingi tembung linggase ….
      1. Paringi                    c. Paringe
      2.  Paring                    d. Peparing

     

    1. Ing ngisor iki panggonan umum kang mertombo nalikane lara yaiku ….
      1. Rumah sakit lan puskesma
      2. Lapangan lan dalan gedhe
      3.  Kantor pos lan masjid
      4.  Gardu lan balai

     

    1. Yem burat madhang piringe kudhu disisahi dhewetandha waca kang wacakake yaiku ….
      1. Titik                        c. Koma
      2.  Pakon                   d. Pitakon

     

    1. Basa krama inggile brengos, yaiku ….
      1. Rema                     c. Jaja
      2.  Rawis                    d. Jangga

     

    1. Lara ingkang remen olah raga punika pawakanipun ….
      1. Luhur                     c. Sumeh
      2.  Kiyeng                  d. Rumaket

     

    1. Ukara ing ngisar ngendhi kang jenenge ukara pawatarta ….
      1. Muga muga sesuk isuk ora udan
      2. Yen isih udan aja mulih dhisik
      3. Ayo padha melu senam pagi
      4. Bocah bocah lagi padha sirau basa jawa

     

    1. Aku ngrumangsani luput, mula kari ….
      1. Tadha banget       c. Tadha amin
      2.  Tadha duka         d. Tadha kringet

     

    1. Taneman punika … jalaran kirang siramen
      1. Nglayung               c. Nglintrik
      2.  Alum                     d. Pucet

     

    1. Wakltu pakdhe ngunduh mantu, kula dados among ….
      1. Dagang                  c. Tamu
      2.  Rasa                      d. Karsa

     

    1. B.      Pitakon pitakon kang ngisor iki wangsulana kang patitis !
      1. Sebutna wernane gaya bahasa lan terangna uga wenehana tuladha !
      2. Apa sing diarani Transmigrasi !
      3. Carane transmigrasi ioku werna werna apa wae, sebutna !
      4. Gawea tuladha surat undangan !
      5. Sawijine dina kowe lagi lara ora bisa mlebu sekolah.

    Coba telpina karo kancamu, njaluk tulung kancamu mamitake marang bu guru yen kowe lagi lara !

    SOAL UTS IPA KLAS VIII SMP/MTS

    8 April 2010

    ULANGAN TENGAH SEMESTER GENAP

    MTs.DARUL ULUM 2010

    Mata Pelajaran    : IPA

    Hari / Tanggal      : Kamis, 11 Maret 2010

    Kelas                      : VIII

    Waktu                    : 07.30 – 09.00

    1. A.      Berikan tanda silang (x) pada jawaban yang paling benar !
    2. Suatu dorongan atau tarikan pada suatu benda disebut …
      1. Berat                              b. Massa                                c. Gaya                                  d. Kecepatan
      2. Gaya dibawah ini termasuk gaya tak sentuh, adalah ….
        1. Gaya Otot                     b. Gaya Magnet                   c. Gaya pegas                       d. Gaya Mesin
        2.  Dua buah gaya dikatakan seimbang apabila ….
          1. Berbeda dan searah                                                    c. Berbeda dan berlawanan arah
          2. Sama besar dan searah                                              d. Sama besar dan berlawanan arah
          3. Adi dan ali bermain tarik tambang. Adi menarik dengan gaya 150 N kearah kanan dan Ali menarik dengan gaya 110 N kearah kiri, Resultan dan arah gaya yang  terjadi adalah ….
            1. 40 N ke kanan                                                             c. 260 N ke kanan
            2. 40 N ke kiri                                                                   d. 260 N ke kiri
            3. Sebuah benda di bumi beratnya 600 N . jika percepatan gravitasi dibulan   kali percepatan gravitasi bumi, maka berat benda tersebut di bulan…………….
              1. 600 N                                                                             c. 150 N
              2. 400 N                                                                             d. 100 N
              3. Benda yang massanya 5 Kg berada di tempat dengan percepatan gravutasu bumi 9,8 m/s² ,maka berat benda  tersebut adalah………
                1. 49,0 N                                                                            c. 490 N
                2. 98 N                                                                               d. 980 N
                3. Gaya gesek dibawah ini merugikan, kecuali ….
                  1. a.       Gesekan pada komponen mesin                              c. Gesekan antara  kaki dan jalan
                  2. b.       Gesekan anatara ban dan aspal                              d. Gesekan pd rem
                  3. Energi yang terdapat pada buah saat masih berada dipohon adalah ….
                    1. Energi Kinetik                                                              c. Energi Mekanik
                    2. Energi Potensial                                                           d. Energi Listrik
                    3. Pada saat kita menyalakan kompor minyak tanahm perubahan energi yang terjadi adalah ….
                      1. Listrik – kimia – Cahaya                                           c. Kimia – Kalor – Cahaya
                      2. Kimia – Cahaya – Listrik                                          d. Listrik – Kalor – Cahaya
                      3. Rumus yang sesuai untuk energi mekanik adalah ….
                        1. Em = Ep – Ek                                                               c. Em =  
                        2. Em =  Ep – Ek                                                              d. Em =
                        3. Sebuah benda massanya 2 kg melaju dengan kecepatan 4 m/s. Energi kinetik yang terjadi ….
                          1. 6 J                                   b. 8 J                                       c. 12 J                                     d. 16 J
                          2. Sebuah kelapa massanya 0,5 kg berada dipohon dengan ketinggian 4 m. bila percepatan gravitasi 10 m/s² . berapa energi potensial yang terjadi ….
                            1. 10 J                                 b. 20 J                                    c. 50 J                                     d. 200 J
                            2. Alat yang berfungsi mengubah energi listrik menjadi energi kalor ….
                              1. Lampu                           b. Kipas Angin                     c. Solder                 d. Magic jar
                              2. Pada saat buah jatuh dari pohon terjadi perubahan energi … menjadi energi ….
                                1. Potensial – kinetik                                                       c. Kinetik – Mekanik
                                2. Kinetik – Potensial                                                      d. Mekanik – Potensial
                                3. Satu kalori sama dengan ….
                                  1. 2,4 joule                        b. 4,2 joule                            c. 42 joule                             d. 24 joule
                                  2. Kemampuan untuk melakukan usaha, merupakan pengertian dari ….
                                    1. Gaya                              b. Energi                                c. Daya                                  d. Tekanan
                                    2. Keuntungan dari penggunaan pesawat sederhana adalah ….
                                      1. Memperkecil usaha yang dilakukan                       c. Membesar usaha yang dilakukan
                                      2. Memperkecil energi yang diperlukan      d. Mempermudah dalam melalkukan usaha
                                      3. Keuangan dari penggunaan pesawat sederhana jenis tuas, kecuali ….
                                        1. Gunting                          b. Gerobak dorong              c. Paku                                   d. Jungkat Jungkit
                                        2. Seorang pekerja mengangkat beban dengan kontrol tetap, keuntungan mekanik yang diperoleh adalah ….
                                          1. 1                                      b. 2                                         c. 3                                          d. 4
                                          2. Sebuah mesin melakukan usaha 36000 J selama ½ jam. Maka daya mesin tersebut adalah ….
                                            1. 10 watt                          b. 20 watt                              c. 300 watt                            d. 1800 watt

     

    1.                                                 Seekor Ikan berada dalam kedalaman 40cm dari permikaan air.

    bila massa jenis air 1000 kg/m³ dan percepatan gravitasi 10m/s²

    maka tekanan hidrostatis yang dialami ikan ….

    1. 10000 Pa                       c. 6000 Pa
    2.  8000Pa                         d. 4000 Pa                                            

                                                   

    1. Salah satu alat yang bekerja berdasarkan hukum Boyle adalah ….
      1. Galangan kapal                                                          c. Kapal Laut
      2. Dongkrak Hidrolik                                                     d. alat Suntik
      3. Toko dan kondisi merupakan alat yang bekerjanya menggunakan prinsip ….
        1. Bejana Berhubungan                                                c. Hukum Boyle
        2. Hukum Pascal                                                            d. Hukum Archimedes
        3. Kota A berdiri 800m ari atas permukaan air laut, juka tekanan diatas permukaan laut 76 cmHg. Berapakah tekanan di kota A ….
          1. 74cmHg                       b. 70cmHg                            c. 68cmHg                            d. 65cmHg
          2. Alat yang digunakan untuk mengukur tekan gas dalam ruangan tertutup disebut ….
            1. Manometer b. Barometer                        c. Higrometer                        d. Altimeter
            2. Waktu yang diperlukan untuk satu kali getaran adalah ….
              1. Frekuensi                     b. Periode                              c. Simpangan                       d. Amplitudo
              2. Suatu pegas melakukan 150 getaran dalam waktu  ½  maka frekuensi getaran pegas adalah ….
                1. 70 Hz                            b. 30 Hz                                 c. 50 Hz                                 d.  75 Hz
                2. Gelombang Transversal terdiri dari ….
                  1. Satu rapatan                                                               c. Satu rapatan dan satu renggangan
                  2. Satu renggangan                                                        d. Satu bukit dan satu lembah
                  3. Panjang gelombang 50 m merambat dengan kecepatan  350 m/s. maka frekuensinya adalah ….
                    1. 70 Hz                            b. 35 Hz                                 c. 15 Hz                                 d. 7 Hz
                    2. Berikut ini contoh gelombang elektromagnetik, kecuali ….
                      1. Gelombang cahaya                                                   c. Gelombang radio
                      2. Gelombang bunyi                                                      d. Gelombang Tv

     

    1. B.      Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar !
      1. Suatu bandul dalam waktu 5 detik telah melakukan getaran sebanyak 80 getaran. Berapa periode dan frekuensinya!
      2. Suatu pemancar radio memiliki frekuensi 30 MHz. Jika cepat rambat gelombang diudara

    3 x  m/s. maka panjang gelombangnya adalah ….

    1. Berdasarkan hukum Archimedes suatu benda yang tercelup dalam air ada 3 kemungkinan , sebutkan beserta penyebab terjadinya !
    2. B                    A                             C             Bila jarak AB = 40cm dan AC = 60cm. sedang beban

    F              beban berat di B = 300N. Hitung gaya di C yang diperlukan

    5.     Tuliskan Hukum Kekekalan Energi !

    BEASISWA SANTRI BERPRESTASI (PBSB) KEMENTERIAN AGAMA RI TAHUN 2010

    8 April 2010

    DEPARTEMEN AGAMA R.I. DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM Jl. Lapangan Banteng Barat No. 3-4, Telepon : 3811642, 3811654, 3812216, 3812679, 3811214 J A K A R T A ============================================================ PENGUMUMAN PENERIMAAN PESERTA PROGRAM BEASISWA SANTRI BERPRESTASI (PBSB) KEMENTERIAN AGAMA RI TAHUN 2010 Kebijakan pembangunan pendidikan mencakup tiga aspek yaitu: perluasan akses, peningkatan mutu, dan tata kelola. Perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan Islam mengisyaratkan keseriusan Kementerian Agama RI dalam meningkatkan angka partisipasi masyarakat di dunia pendidikan. Dalam rangka meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi santri berprestasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. bermaksud menjaring santri terbaik di kelas III pada Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat di pondok pesantren untuk mengikuti program pendidikan tinggi melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). PERSYARATAN SELEKSI a. Tercatat sebagai siswa/i kelas III Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat di pondok pesantren. b. Berstatus sebagai santri aktif yang bermukim dan belajar/nyantri di pondok pesantren sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun. c. Sehat jasmani dan rohani. d. Pada saat mendaftar berumur tidak lebih dari 20 tahun, terhitung tanggal 13 Maret 2010. e.. Memiliki prestasi yang baik selama pendidikan 5 semester berturut-turut dengan nilai minimal 70 (skala 100) untuk tiap mata pelajaran: Program IPA : Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa Inggris. Program IPS : Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Program Bahasa : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Antropologi, Sastra Indonesia dan Bahasa Asing lain. Program Keagamaan : Bahasa Arab, Ilmu Hadist, Ilmu Tafsir, Fiqih, Bahasa Inggris. f. Diajukan oleh Pimpinan Pondok Pesantren santri yang bersangkutan. WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN Pendaftaran dimulai pada tanggal 5 Februari s/d 5 Maret 2010 di Kantor Wilayah Kementerian Agama masing-masing. MATERI TEST/SELEKSI 1. Test Bakat Skolastik (TBS) 2. Test Kemampuan Akademik 3. Test Kemampuan Bahasa Inggris 4. Test Kepesantrenan 5. Test Bahasa Arab WAKTU DAN TEMPAT SELEKSI Seleksi dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2010 di 29 Kantor Wilayah Kementerian Agama RI. PEMBIAYAAN Kementerian Agama RI akan menanggung komponen pembiayaan sebagai berikut: 1. Biaya seleksi. 2. Biaya pendidikan pre-university (matrikulasi/orientasi/bridging program). 3. Biaya pendidikan (SPP dan Sumbangan Dana Pengembangan Akademik (SDPA). 4. Bantuan Biaya hidup (living cost). PERGURUAN TINGGI MITRA Peserta yang lulus seleksi akan studi pada perguruan tinggi mitra: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Mataram, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan IAIN Walisongo Semarang. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Panitia Seleksi Peserta PBSB Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. dengan nomor telepon 021-3811810 atau melalui website http://www.pondokpesantren.net. Jakarta, 3 Februari 2009 Direktur Jenderal Pedidikan Islam ttd Prof. Dr. H. Mohammad Ali, MA NB. Silahkan download * PENGUMUMAN SELEKSI PBSB 2010.pdf * PANDUAN SELEKSI PBSB 2010.pdf * FORMULIR PBSB 2010.pdf Permalink

    PANDUAN UN 2010 SMP/MTS

    8 April 2010

    PANDUAN

    PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL

    MTs. DARUL ULUM

    2009 / 2010

    YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

    DARUL ULUM

    2010


     

     

    DAFTAR ISI

    Tata Tertib Peserta UN ………………………………………………………………………………..

    Tugas Pengawas Ruangan ……………………………………………………………………………

    Tanda Bel UN ………………………………………………………………………………………………

    Prosedur Kerja TIM Pemantau Independen ……………………………………………….

    Denah Tempat duduk Peserta UN …………………………………………………….………..

    Denah Ruang UN ……………………………………………………………………………………….

     

     

     

     

     

     

    TATA TERTIB PESERTA UN

     

    1. Peserta UN memasuki ruangan setelah tanda masuk dibunyikan, yakni 15 (lima belas) menit sebelum UN dimulai.
    2. Peserta UN yang hadir hanya di perkenankan mengikuti UN setelah mendapat izin dari ketua penyelenggara UN Tingkat Madrasah tanpa diberi perpanjangan waktu.
    3. Peserta UN dilarang membawa alat komunikasi elektronik  dan kalkulator ke dalam ruangan
    4. Tas, Buku, dan catatan dalam bentuk apapun dikumpulkan di depan kelas di samping pengawas
    5. Peserta UN membawa pensil 2B , penghapus , penggaris dan kartu tanda perserta ujian.
    6. Peserta UN mengisi daftar hadir dengan menggunakan pulpen yang disediakan oleh pengawas ruangan.
    7. Peserta UN mengisi identitas pada LJUN secara lengkap dan benar.
    8. Peserta UN yang memerlukan penjelasan cara pengisian identitas pada LJUN dapat bertanya kepada pengawas ruang UN dengan cara  mengacungkan tangan terlebih dahulu.
    9. Peserta UN mulai mengerjakan  soal setelah ada tanda waktu mulai ujian.

    10.  Selama UN berlangsung , peserta UN hanya dapat meninggalkan ruang dengan izin dan pengawasan dari pengawas ruang UN.

    11.  Peserta UN yang memperoleh naskah soal yang cacat atau rusak pengerjaan soal tetap dilakukan sambil menunggu penggantian naskah soal.

    12.  Peserta UN yang meninggalkan ruangan setelah membaca soal dan tidak kembali lagi sampai tanda selesai di bunyikan , dinyatakan telah selesai menempuh / mengikuti UN pada mata pelajaran yang terkait.

    13.  Peserta UN yang telah selesai menerjakan soal sebelum waktu UN berakhir tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan sebelum berakhirnya waktu ujian.

    14.   Peserta UN berhenti mengerjakan soal setelah ada tanda berakhirnya waktu ujian.

    15.  Selama UN berlangsung, peserta UN dilarang:

    1. Menanyakan jawaban soal kepada siapa pun;
    2. Bekerjasama dengan peserta lain;
    3. Memberi atau menerima bantuan dalam menjawab soal;
    4. Memperlihatkan pekerjaan sendiri kepada peserta lain atau melihat pekerjaan peserta lain;
    5. Membawa naskah soal UN dan LJUN keluar dari ruang ujian;
    6. Mengganti atau digantikan orang lain.

     

    Semarang,  27 Maret 2010

       Ketua

    Ahmad Mustafidin, M.S.I

     

    TUGAS PENGAWAS RUANG UN

    1. Persiapan UN
      1. Empat puluh lima menit (45 menit) sebelun ujian dimulai pengawas ruang UN telah hadir dilokasi sekolah/Madrasah penyelenggaraan UN
      2. Pengawasan ruang UN menerima penjelasan dan pengarahan diri ketua penyelenggaraan UN.
      3. Pengawas ruang UN menerima bahan UN yang berupa naskah soal UN,LJUN, Amplop LJUN, Daftar Hadir, dan Berita Acara Pelaksanaan UN
      4. Pelaksanaan UN
        1. Pengawas ruang UN masuk kedalam ruang UN dua puluh menit sebelum waktu pelaksanaan untuk :

    1)      Memeriksa kesiapan ruang ujian

    2)      Meminta peserta UN untuk memasuki ruangan UN dengan menunjukan kartu peserta UN dan menempati tempat duduk sesuai nomor yang telah di tentukan

    3)      Memastikan setiap peserta UN tidak membawa tas, buku atau catatan lain, alat komunikasi elektronik, kalkulator dan sebagainya kedalam ruang UN kecuali alat tulis yang akan dipergunakan.

    4)      Membacakan tata tertib UN

    5)      Meminta peserta ujian mendandatangani daftar hadir

    6)      Membagikan LJUN kepada peserta dan memandu serta memeriksa identitas peserta UN (Nomor ujian, nama, tanggal lahir dan tanda tangan)

    7)      Memastika peserta UN telah mengisi idetitas dengan benar setelah peserta UN selesai  mengisi identitas, pengawas ruang UN membuka  amplop soal, memeriksa kelengkapan bahan ujian, dan menyakinkan bahwa amplop tersebut dalam keadaan baik dan tertutup rapat (disegel), disaksikan oleh peserta ujian

    8)      Membagikan naskah soal yang terdiri dari dua paket A dan B secara selang seling (berbeda antara peserta depan belakang dan kiri kanan)

    9)      Membagikan naskah soal UN dengan cara meletakan di atas meja peserta UN dalam posisi tertutup( terbalik). Peserta UN tidak diperkenankan untuk menyentuhnya sebelum tanda waktu UN telah dimulai

    1. Setelah tanda waktu mengerjakan dimulai , pengawas ruang UN :

    1)      Mempersilahkan peserta UN untuk mengecek kelengkapan soal

    2)      Mempersilahkan peserta UN untuk mengerjakan soal

    3)      Mengingatkan peserta agar terlebih dahulu membaca petunjuk cara menjawab soal

    1. Kelebihan naskah soal UN selama ujian berlangsung tetap di simpan diruang ujian dan tidak diperbolehkan di baca oleh pengawas ruang.
    2. Selama UN berlangsung, pengawas ruang UN wajib:

    1)      Menjaga ketertiuban dan ketenangan suasana sekitar ruang ujian

    2)      Memberi peringatan dan sanksi kepada peserta yang melakukan kecurangan

    3)      Melarang orang lain memasuki ruang UN

    1. Pengawas ruang UN dilarang memberi isyarat, petunjuk, dan bantuan apapun kepada peserta berkaitan dengan jawaban dari soal UN yang di ujikan.
    2. Lima menit sebelum waktu UN selesai, pengawas ruang UN memberi peringatan kepada peserta UN bahwa waktu tinggal lima menit.
    3. Setelah waktu UN selesai, pengawas ruang UN :

    1)      Mempersilahkan peserta UN untuk berhenti mengerjakan soal

    2)      Mempersilahkan peserta UN meletakan naskah soal dan LJUN diatas meja dengan rapi

    3)      Mengumpulkan LJUN dan naskah UN

    4)      Menghitung jumlah LJUN sama dengan jumlah peserta UN

    5)      Mempersilahkan peserta UN untuk meninggalkan ruang ujian

    6)      Menyusun secara urut LJUN dari nomor peserta terkecil dan memasukanya kedalam amplop LJUN di serta dengan dua lembar daftar hadir peserta, dua lembar berita acara, pelaksanaan, kemudian ditutup dan di lem kemudian di tanda tangani oleh pengawas ruang UN di dalam ruang ujian.

    1. Pengawas ruang menyerahkan UN dan menyerahkan LJUN dan naskah soal UN kepada penyelenggara UN tingkat sekolah dari madrasah disertai dengan satu lembar daftar hadir peserta dan satu lembar berita acara pelaksanaan UN.

     

    TANDA BEL UN

    PESERTA MEMASUKI RUANGAN

     

    PESERTA MULAI MENGERJAKAN

     

    WAKTU PENGERJAAN SOAL KURANG 5 MENIT

     

    WAKTU UNTUK MENGERJAKAN SELESAI


     

    PROSEDUR KERJA TIM PEMANTAU INDEPENDEN

    Selama UN berlangsung

    a)      Memantau pelaksanaan UN di wilayahnya

    b)      Menyaksikan dan menandatangani berita acara (BA) serah terima LJUN dari Penyelenggaraan Tingkat Kabupaten/Kota ke Penyelenggaraan Tingkat Provinsi

    c)       Menyaksikan dan memantau proses pemindaian (scanning) LJUN, dan menandatangani berita acara pelaksanaanya

    d)      Menyaksikan dan menandatangani berita acara pengiriman hasil pemindaian (file hasil UN di provinsi) ke penyelenggara UN tingkat pusat

    Setelah UN dilaksanakan

    a)      Menyampaikan laporan pelaksanaan pemantauan UN di tingkat provinsi ke BSNP

    b)      Memberikan laporan tentang kejadian luar biasa pada waktu pelaksanaan UN ke BSNP.

    PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM MENUJU MASYARAKAT MADANI

    21 Januari 2010

    PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM MENUJU MASYARAKAT MADANI

    [Tinjauan Filosofis]

    Oleh : Hujair AH. Sanaky

    A. Pendahuluan

    Akhir-akhir ini sering muncul ungkapan dari sebahagian pejabat pemerintah, politisi, cendekiawan, dan tokoh-tokoh masyarakat tentang masyarakat madani (sebagai terjemahan dari kata civil society). Tanpaknya, semua potensi bangsa Indonesia dipersiapkan dan diberdayakan untuk menuju masyarakat madani yang merupakan cita-cita dari bangsa ini. Masyarakat madani diprediski sebagai masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama. Demikian pula, bangsa Indonesia pada era reformasi ini diarahkan untuk menuju masyarakat madani, untuk itu kehidupan manusia Indonesia akan mengalami perubahan yang

    Konsep masyarakat madani merupakan tuntutan baru yang memerlukan berbagai torobosan di dalam berpikir, penyusunan konsep, serta tindakan-tindakan. Dengan kata lain, dalam menghadapi perubahan masyarakat dan zaman, “diperlukan suatu paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru, demikian kata filsuf Kuhn. Karena menurut Kuhn, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan memenuhi kegagalan”.

    Terobosan pemikiran kembali konsep dasar pembaharuan pendidikan Islam menuju masyarakat madani sangat diperlukan, karena “pendidikan sarana terbaik yang didisain untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia [Conference Book, London, 1978:16-17]. Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas, maka masalah yang perlu dicermati dalam pembahasan ini adalah bagaimanakah pendidikan Islam didisain menuju masyarakat madani Indonesia.

    1. Konsep Masyarakat Madani

    Istilah masyarakat Madani sebenarnya telah lama hadir di bumi, walaupun dalam wacana akademi di Indonesia belakangan mulai tersosialisasi. “Dalam bahasa Inggris ia lebih dikenal dengan sebutan Civil Society”. Sebab, “masyarakat Madani”, sebagai terjemahan kata

    nilai tertentu dalam kehidupan masyarakat, terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan [pluralisme] [Masykuri Abdillah, 1999:4]. Sedangkan menurut, Komaruddin Hidayat, dalam wacana keislaman di Indonesia, adalah Nurcholish Madjid yang menggelindingkan istilah “masyarakat madani” ini, yang spirit serta visinya terbakukan dalam nama yayasan Paramadinah [terdiri dari kata “para” dan “madinah”, dan atau “parama” dan “dina”]. Maka, secara “semantik” artinya kira-kira ialah, sebuah agama [dina] yang

    Kata madani sepintas orang mendengar asosiasinya dengan kata Madinah, memang demikian karena kata Madani berasal dari dan terjalin erat secara etimologi dan terminologi dengan Madinah yang kemudian menjadi ibukota pertama pemerintahan Muslim. Maka, “Kalangan pemikir muslim mengartikan

    Menurut Komaruddin Hidayat, bagi kalangan intelektual Muslim kedua istilah [masyarakat agama dan masyarakat madani] memilki akar normatif dan kesejarahan yang sama, yaitu sebuah masyarakat yang dilandasi norma-norma keagamaan sebagaimana yang diwujudkan Muhammad SAW di Madinah, yang berarti “kota peradaban”, yang semula kota itu bernama Yathrib ke Madinah difahami oleh umat Islam sebagai sebuah manifesto konseptual mengenai upaya Rasulullah Muhammad untuk mewujudkan sebuah masyarakat Madani, yang diperhadapkan dengan masyarakat Badawi dan Nomad [Kamaruddin Hidayat, 1999:267]. Untuk kondisi Indonesia sekarang, kata Madani dapat diperhadapkan dengan istilah masyarakat Modern.

    Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa, bentuk masyarakat madani adalah suatu komunitas masyarakat yang memiliki “kemandirian aktivitas warga masyarakatnya” yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama, dengan mewujudkan dan memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan [persamaan], penegakan hukum, jaminan kesejahteraan, kebebasan, kemajemukan [pluralisme], dan perlindungan terhadap kaum minoritas. Dengan demikian, masyarakat madani merupakan suatu masyarakat ideal yang dicita-citakan dan akan diwujudkan di bumi Indonesia, yang masyarakatnya sangat plural.

    Dari uraian di atas, maka sangat perlu untuk mengetahui ciri masyarakat tersebut. Antonio Rosmini, dalam ”

    mewujudkan tujuannya.

    Lebih lanjut, menurut Mufid, menyatakan bahwa masyarakat madani terdiri dari berbagai warga beraneka “warna”, bakat dan potensi. Karena itulah, masyarakar madani di sebut sebagai masyarakat “multi-kuota” [

    2. Pendidikan Islam

    Sebelum membahas tentang pengertian pendidikan Islam, terlebih dahulu membahas apa itu pendidikan? Menurut M.J. Langeveld ; “Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan [Kartini Kartono, 1997:11]. Ahmad D.Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama [Ahmad D. Marimba, 1978:20]. Demikian dua pengertian pendidikan dari sekian banyak pengertian yang diketahui. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor : 2 Tahun 1989, “pendidikan dirumuskan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akang datang. Sedangkan, “pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi perbuatan atau semua usaha generasi tua untuk mengalihkan [melimpahkan] pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah [Zuhairin, 1985:2].

    Para ahli Filsafat Pendidikan, menyatakan bahwa dalam merumuskan pengertian pendidikan sebenarnya sangat tergantung kepada pandangan terhadap manusia; hakikat, sifat-sifat atau karakteristik dan tujuan hidup manusia itu sendiri. Perumusan pendidikan bergantung kepada pandangan hidupnya, “apakah manusia dilihat sebagai kesatuan badan dan jasmani; badan, jiwa dan roh, atau jasmani dan rohani? Apakah manusia pada hakekatnya dianggap memiliki kemampuan bawaan [

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas , memerlukan jawaban yang menentukan pandangan terhadap hakekat dan tujuan pendidikan, dan dari sini juga sebagai pangkal perbedaan rumusan pendidikan atau timbulnya aliran-aliran pendidikan

    seperti; pendidikan Islam, Kristen, Liberal, progresif atau pragmatis, komunis, demokratis, dan lain-lain. Dengan demikian, terdapat keaneka ragaman pendangan tentang pendidikan. Tetapi, “dalam keanekaragaman pandangan tentang pendidikan terdapat titik-titik persamaan tentang pengertian pendidikan, yaitu pendidikan dilihat sebagai suatu proses; karena dengan proses itu seseorang [dewasa] secara sengaja mengarahkan pertumbuhan atau perkembangan seseorang [yang belum dewasa]. Proses adalah kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang sesuai dengan nilai-nilai yang merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Maka, dengan pengertian atau definisi itu, kegiatan atau proses pendidikan hanya berlaku pada manusia tidak pada hewan” [Anwar Jasin, 1985:2].

    Dari uraian di atas, timbul pertanyaan apakah Pendidikan Islam itu? Pendidikan Islam adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam [Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, 1986:2], atau menurut Abdurrahman an-Nahlawi, “pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah [Abdurrahman an-Nahlawi, 1995:26].

    Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar ”

    Jadi, dapat dikatakan bahwa “konsepsi pendidikan model Islam, tidak hanya melihat pendidikan itu sebagai upaya “mencerdaskan” semata [pendidikan intelek, kecerdasan], melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakekat eksistensinya. …Maka,..pendidikan Islam sebagai suatu pranata sosial, juga sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan [eksistensi] manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah dan perbedaanya adalah terletak pada kadar ketaqwaan masing-masing manusia, sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif” [M.Rusli Karim, 1991:29-32].

    Pendidikan berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran pada manusia, maka sangat urgen sekali untuk memperhatikan konsep atau pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang diproses kearah kebahagian dunia dan akhirat, maka pandangan Islam tentang manusia antara lain:

    fundamental yang tentu akan berbeda dengan kehidupan masayakat pada era orde baru. Kenapa, karena dalam masyarakat madani yang dicita-citakan, dikatakan akan memungkinkan “terwujudnya kemandirian masyarakat, terwujudnya nilai-nilai tertentu dalam kehidupan masyarakat, terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan [pluraliseme]” , serta taqwa, jujur, dan taat hokum [Bandingkan dengan Masykuri Abdillah, 1999:4]. civil society atau al-muftama’ al-madani. ….Istilah civil society pertama kali dikemukakan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah societies civilis, namun istilah ini mengalami perkembangan pengertian. Kalau Cicero memahaminya identik dengan negara, maka kini dipahami sebagai kemandirian aktivitas warga masyarakat madani sebagai “area tempat berbagai gerakan sosial” [seperti himpunan ketetanggaan, kelompok wanita, kelompok keagamaan, dan kelompk intelektual] serta organisasi sipil dari semua kelas [seperti ahli hukum, wartawan, serikat buruh dan usahawan] berusaha menyatakan diri mereka dalam suatu himpunan, sehingga mereka dapat mengekspresikan diri mereka sendiri dan memajukkan pelbagai kepentingan mereka. Secara ideal masyarakat madani ini tidak hanya sekedar terwujudnya kemandirian masyarakat berhadapan dengan negara, melainkan juga terwujudnya nilai-excellent [paramount] yang misinya ialah untuk membangun sebuah peradaban [madani] [Kamaruddin Hidayat, 1999:267-268]. civil society dengan cara memberi atribut keislaman madani [attributive dari kata al-Madani]. Oleh karena itu, civil society dipandang dengan masyarakat madani yang pada masyarakat idial di [kota] Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam masyarakat tersebut Nabi berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga, serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Dengan begitu, kalangan pemikir Muslim menganggap masyarakat [kota] Madinah sebagai prototype masyarakat ideal produk Islam yang dapat dipersandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society“[Thoha Hamim, 1999:4]. The Philosophy of Right, Rights in Civil Society” [1996: 28-50] yang dikutip Mufid, menyebutkan pada masyarakat madani terdapat sepuluh ciri yang menjadi karakteristik masyarakat tersebut, yaitu: Universalitas, supermasi, keabadian, dan pemerataan kekuatan [prevalence of force] adalah empat ciri yang pertama. Ciri yang kelima, ditandai dengan “kebaikan dari dan untuk bersama”. Ciri ini bisa terwujud jika setiap anggota masyarakat memiliki akses pemerataan dalam memanfaatkan kesempatan [the tendency to equalize the share of utility]. Keenam, jika masyarakat madani “ditujukan untuk meraih kebajikan umum” [the common good], kujuan akhir memang kebajikan publik [the public good]. Ketujuh, sebagai “perimbangan kebijakan umum”, masyarakat madani juga memperhatikan kebijakan perorangan dengan cara memberikan alokasi kesempatan kepada semua anggotanya meraih kebajikan itu. Kedelapan, masyarakat madani, memerlukan “piranti eksternal” untuk Piranti eksternal itu adalah masyarakat eksternal. Kesembilan, masyarakat madani bukanlah sebuah kekuatan yang berorientasi pada keuntungan [seigniorial or profit]. Masyarakat madani lebih merupakan kekuatan yang justru memberi manfaat [a beneficial power]. Kesepuluh, kendati masyarakat madani memberi kesempatan yang sama dan merata kepada setiap warganya, tak berarti bahwa ia harus seragam, sama dan sebangun serta homogin [Mufid, 1999:213]. a multi quota society]. Maka, secara umum sepuluh ciri tersebut sangat idial, sehingga mengesankan seolah tak ada masyarakat seideal itu. Kalau ada, yaitu masyarakat muslim yang langsung dipimpin oleh Nabi SAW yang relatif memenuhi syarat tersebut. Memang, masyarakat seideal masyarakat “madinah” telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya, “tak ada satupun masyarakat di dunia ini yang sebaik masyarakat atau sebaik-baik masa adalah masaku” [ahsanul qurun qarni] – terlepas dari status sahih dan tidaknya sabda ini, ataupun siapa periwayatnya [Mufid, 1999:213-214]. Diakui bahwa masyarakat Madinah yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW merupakan prototype masyarakat idial. Maka, prototype masyarakat madani tersebut, pada era reformasi ini, nampaknya akan upayakan untuk diwujudkan di Indonesia atau dengan kata lain akan ditiru dalam wacana masyarakat Indonesia yang sangat pluralis. innate] yang menentukan perkembangannya dalam lingkungannya, atau lingkungannyalah yang menentukan [domain] dalam perkembangan manusia? Bagimanakah kedudukan individu dalam masyarakat? Apakah tujuan hidup manusia? Apakah manusia dianggap hanya hidup sekali di dunia ini, ataukah hidup lagi di hari kemudian [akhirat]? Demikian beberapa pertanyaan filosofis” yang diajukan. transper of knowledge” ataupun “transper of training“, ….tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi “keimanan” dan “kesalehan”, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan [Roihan Achwan, 1991:50]. Dengan demikian, dapat dikatakan pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka sosok pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia kearah kebahagian dunia dan akhirat melalui ilmu dan ibadah. Karena pendidikan Islam membawa manusia untuk kebahagian dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah “nilai-nilai Islam tentang manusia; hakekat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota masyarakat. Semua ini dapat kita jumpai dalam al-Qur’an dan Hadits [Anwar Jasin, 1985:2]. Pertama, konsep Islam tentang manusia, khsusunya anak, sebagai subyek didik, yaitu sesuai dengan Hadits Rasulullah, bahwa “anak manusia” dilahirkan dalam fitrah atau dengan “potensi” tertentu [Anwar Jasin, 1985:2]. Dalam al-Qur’an, dikatakan “tegakkan dirimu pada agama dengan tulus dan mantap, agama yang cocok dengan fitrah manusia yang digariskan oleh Allah. Tak ada perubahan pada ketetapan-Nya…..[ar-Rum : 30]. Dengan demikian, manusia pada mulanya dilahirkan dengan “membawa potensi” yang perlu dikembangkan dalam dan oleh lingkungannya. Pandangan ini, “berbeda dengan teori tabularasa

    Selain itu, dalam al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menggambarkan sifat-sifat hakiki manusia yang mempunyai implikasi baik terhadap tujuan maupun cara pengarahan perkembangannya. Misalnya saja: tentang tanggung jawab, bahwa manusia diciptakan tidak sia-sia, tetapi juga potensi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan sesuai dengan tingkat kemampuan daya pikul seseorang menurut kodrat atau

    Jadi, dari pandangan di atas, pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan

    bawaan” seperti potensi “keimanan”, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, potensi fisik. Karena dengan potensi ini, manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia muslim yang mampu menjadi

    Bersarkan uraian di atas, pengertian pendidikan menurut al-Qur’an dan hadits sangat luas, meliputi pengembangan semua potensi bawaan manusia yang merupakan rahmat Allah. Potensi-potensi itu harus dikembangkan menjadi kenyataan berupa keimanan dan akhlak serta kemampuan beramal dengan menguasai ilmu [dunia – akhirat] dan keterampilan atau keahlian tertentu sehingga mampu memikul amanat dan tanggung jawab sebagai seorang

    3. Pembaharuan Pendidikan Islam

    Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dalam berbagai aspek. Upaya perbaikannya belum dilakukan secara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja ….Selama ini, upaya pembaharuan pendidikan Islam secara mendasar, selalu dihambat oleh berbagai masalah mulai dari persoalan dana sampai tenaga ahli. Padahal pendidikan Islam dewasa ini, dari segi apa saja terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas [Muslih Usa, 1991:11-13]. Berdasarkan uraian ini, ada dua alasan pokok mengapa konsep pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia untuk menuju masyarakat madani sangat mendesak. [a] konsep dan praktek pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani. [b] lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dimiliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang. Maka, untuk menghadapi dan menuju masyarakat madani diperlukan konsep pendidikan Islam serta peran sertanya secara mendasar dalam memberdayakan umat Islam,

    Suatu usaha pembaharuan pendidikan hanya bisa terarah dengan mantap apabila didasarkan pada konsep dasar filsafat dan teori pendidikan yang mantap. Filsafat pendidikan yang mantap hanya dapat dikembangkan di atas dasar asumsi-asumsi dasar yang kokoh dan jelas tentang manusia [hakekat] kejadiannya, potensi-potensi bawaannya, tujuan hidup dan misinya di dunia ini baik sebagi individu maupun sebagai anggota masyarakat, hubungan dengan lingkungan dan alam semesta dan akhiratnya hubungan dengan Maha Pencipta. Teori pendidikan yang mantap hanya dapat dikembangkan atas dasar pertemuan antara penerapan atau pendekatan filsafat dan pendekatan emperis [Anwar Jasin, 1985:8], Sehubungan dengan itu, konsep dasar pembaharuan pendidikan Islam adalah perumusan konsep filsafat dan teoritis pendidikan yang didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tentang manusia dan hubungannya dengan lingkungan dan menurut ajaran Islam.

    Maka, dalam usaha pembaharuan pendidikan Islam perlu dirumuskan secara jelas implikasi ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang menyangkut dengan ”

    konsep dasar filsafat pendidikan Islam. Untuk itu, filsafat atau segala asumsi dasar pendidikan Islam hanya dapat diterapkan secara baik jikalau kondisi-kondisi lingkungan ( sosial – kultural ) diperhatikan. Jadi, apabila kita ingin mengadakan perubahan pendidikan Islam maka langkah awal yang harus dilakukan adalah merumuskan konsep dasar filosofis pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, mengembangkan secara empris prinsip-prinsip yang mendasari keterlaksanaannya dalam konteks lingkungan [sosial – cultural] yang dalam hal ini adalah masyarakat madani. Jadi, tanpa kerangka dasar filosofis dan teoritis yang kuta, maka perubahan pendidikan Islam tidak punya pondasi yang kuat dan juga tidak mempunyai arah yang pasti [Rangkuman dari Anwar Jasin, 1985:8 –9].

    Konsep dasar filsafat dan teoritis pendidikan Islam, harus ditempatkan dalam konteks supra sistem masyarakat madani di mana pendidikan itu akan diterapkan. Apabila terlepas dari konteks “masyarakat madani”, maka pendidikan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan umat Islam pada kondisi masyarakat tersebut [masyarakat madani]. Jadi, kebutuhan umat yang amat mendesak sekarang ini adalah mewujudkan dan meningkatan kualitas manusia Muslim menuju masyarakat madani. Untuk itu umat Islam di Indonesia dipersiapkan dan harus dibebaskan dari ketidaktahuannya [

    Maka masyarakat madani yang diprediski memiliki ciri ; Universalitas, Supermasi, Keabadian, Pemerataan kekuatan, Kebaikan dari dan untuk bersama, Meraih kebajikan umum, Perimbangan kebijakan umum, Piranti eksternal, Bukan berinteraksi pada keuntungan, dan Kesempatan yang sama dan merata kepada setiap warganya. Atas dasar konsep ini, maka konsep filsafat dan teoritis pendidikan Islam dikembangkan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari keterlaksanaannya dalam kontek lingkungan masyarakat madani tersebut, sehingga pendidikan relevan dengan kondisi dan ciri sosial kultural masyarakat tersebut. Maka, untuk mengantisipasi perubahan menuju “masyarakat madani”, pendidikan Islam harus didisain untuk menjawab perubahan tersebut. Oleh karena itu, usulan perubahan sebagai berikut : [a] pendidikan harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama, karena, dalam pandangan seorang muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT, [b] pendidikan menuju tercapainya sikap dan perilaku “toleransi”, lapang dada dalam berbagai hal dan bidang, terutama toleran dalam perbedaan pendapat dan penafsiran ajaran Islam, tanpa melepaskan pendapat atau prinsipnya yang diyakini, (c) pendidikan yang mampu menumbuhkan kemampuan untuk berswadaya dan mandiri dalam kehidupan, [d] pendidikan yang menumbuhkan ethos kerja, mempunyai aspirasi pada kerja, disiplin dan jujur [Suroyo, 1991:45-48], (e) pendidikan Islam harus didisain untuk mampu menjawab tantangan masyarakat madani.

    Dalam konteks ini juga perlu pemikiran kembali tujuan dan fungsi lembaga-lembaga pendidikan [Anwar Jasin, 1985:15] Islam yang ada. Memang diakui bahwa penyesuaian lembaga-lembaga pendidikan akhir-akhir ini cukup mengemberikan, artinya

    lembaga-lembaga pendidikan memenuhi keinginan untuk menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu umum dan ilmu agama serta keterampilan. Tetapi pada kenyataannya penyesuaian tersebut lebih merupakan peniruan dengan

    Lembaga-lembaga pendidikan Islam mengambil secara utuh semua kurikulum [non-agama] dari kurikulum sekolah umum, kemudian tetap mempertahankan sejumlah program pendidikan agama, sehingga banyak bahan pelajaran yang tidak dapat dicerna oleh peserta didik secara baik, sehingga produknya [hasilnya] serba setengah-tengah atau tanggung baik pada ilmu-ilmu umum maupun pada ilmu-ilmu agama. Untuk itu, lembaga-lembaga pendidikan Islam sebenarnya mulai memikirkan kembali disain program pendidikan untuk menuju masyarakat madani, dengan memperhatikan relevansinya dengan bentuk atau kondisi serta ciri masyarakat madani. Maka untuk menuju “masyarakat madani”, lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memilih satu di antara dua fungsi yaitu apakah mendisain model pendidikan umum Islami yang handal dan mampu bersaing secara kompotetif dengan lembaga pendidikan umum atau mengkhususkan pada disain pendidiank keagamaan yang handal dan mampu bersaing secara kompotetif, misalnya mempersiapkan ulama-ulama dan mujtahid-mujtahid yang berkaliber nasional dan dunia.

    4. Penutup

    Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulakn sebagai berikut : [1] Menyarakat madani merupakan suatu ujud masyarakat yang memiliki kemandirian aktivitas dengan ciri: universalitas, supermasi, keabadian, pemerataan kekuatan, kebaikan dari dan untuk bersama, meraih kebajikan umum, piranti eksternal, bukan berinteraksi pada keuntungan, dan kesempatan yang sama dan merata kepada setiap warganya. ciri masyarakat ini merupakan masyarakat yang ideal dalam kehidupan. Untuk Pemerintah pada era reformasi ini, akan mengarakan semua potensi bangsa berupa pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, militer, kerah masyarakat madani yang dicita-citakan. [2] Konsep dasar pembaharuan pendidikan harus didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tentang manusia meenurut aajaran Islam, filsafat dan teori pendidikan Islam yang dijabarkan dan dikembangkan berdasarkan asumsi-asumsi tentang manusia dan lingkungannya. Atau dengan kata lain pembaharuan pendidikan Islam adalah filsafat dan teori pendidikan Islam yang sesuai dengan ajaran Islam, dan untuk lingkungan ( sosial – kultural) yang dalam hal ini adalah masyarakat madani. (3) Konsep dasar pendidikan Islam supaya relevan dengan kepentingan umat Islam dan relevan dengan disain masyarakat madani. Maka penerapan konsep dasar filsafat dan teori pendidikan harus memperhatikan konteks supra sistem bagi kepentingan komunitas “masyarakat madani” yang dicita-citakan bangsa ini.

    DAFTAR PUSTAKA

    Ahmad D. Marimba, 1974, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, al-Ma’arif, Bandung, Cet.III,.

    Anwar Jasin, 1985, Kerangka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam : Tinjauan Filosofis, Jakarta.

    Conference Book, London, 1978.

    Fathiyah Hasan Sulaiman, Bahts fi ‘L-Madzhab al-Tarbawy ‘Inda ‘L-Ghazaly, Maktabah Nadhlah, Mesir, 1964., Terj., Ahmad Hakim dan M.Imam Aziz, Konsep Pendidikan al-Ghazali, P3M, Jakarta, Cet. I, 1986.

    H.A.R. Tilar, 1998, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21, Tera Indonesia, Magelang, Cet. I,.

    Imam Barnadib, 1997, Filsafat Pendidikan Sistem & Metode, Penerbit Andi, Yogyakarta, Cet. Kesembilan,.

    Komaruddin Hidayat, 1998, Masyarakat Agama dan Agenda Penegakan Masyarakat Madani, Makalah “Seminar Nasional dan Temu Alumni, Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Tanggal, 25-26 September.

    Masykuri Abdillah, 1999, Islam dan Masyarakat Madani, Koran Harian Kompas, Sabtu, 27 Februari.

    Mufid, 1998, Reformasi Hukum Menuju Masyarakat Madani, Makalah “Seminar Nasional dan Temu Alumni, Programa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang”, Tanggal, 25-26 September.

    Muslim Usa (editor)1991, Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Tiara Wacana, Yogyakarta, Cet. I,

    M.Rusli Karim, 1991, Pendidikan Islam Sebagai Upaya Pembebasan Manusia, dalam Buku Pendidikan Islam di Indonesia antara Citra dan Fakta, Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana, Yogya, Cet.Pertama.

    Roihan Achwan, 1991, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam Versi Mursi, dlm. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Volume 1, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Soroyo, 1991, Antisipasi Pendidikan Islam dan Perubahan Sosial Menjangkau Tahun 2000, dalam Buku : Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana, Yogya.

    Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, 1986, Crisis Muslim Education., Terj. Rahmani Astuti, Krisis Pendidikan Islam, Risalah.

    Thoha Hamim, 1999, Islam dan Masyarakat Madani (1) Ham, Pluralisme, dan Toleransi Beragama, Koran Harian “Jawa Pos”, Kamis Kliwon, Tanggal, 11 Maret.

    Zuhairini, dkk, 1995, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, Cet. II,

    yang menganggap anak menerima “secara pasif” pengaruh lingkungannya, sedangkan konsep fitrah mengandung “potensi bawaan” aktif [innate patentials, innate tendencies] yang telah di berikan kepada setiap manusia oleh Allah [Anwar Jasin, 1985:3]. Bahkan dalam al-Qur’an, sebenarnya sebelum manusia dilahirkan telah mengadakan “transaksi” atau “perjanjian” dengan Allah yaitu mengakui keesaan Tuhan, firman Allah surat al-A’raf : 172, “Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka dan menyuruh agar mereka bersaksi atas diri sendiri; “Bukankah Aku Tuhanmu?” firman Allah. Mereka menjawab; “ya kami bersaksi” yang demikian agar kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak, “kami tidak mengetahui hal ini” [Zaini Dahlan, 1998:304]. Apabila kita memperhatikan ayat ini, memberi gambaran bahwa setiap anak yang lahir telah membawa “potensi keimanan” terhadap Allah atau disebut dengan “tauhid”. Sedangakan potensi bawaan yang lain misalnya potensi fisik dan intelegensi atau kecerdasan akal dengan segala kemungkinan dan keterbatasannya. fitrah-nya [pada al-Mu’minun:115 dan al-Baqrah:286]. Selain itu juga manusia pada hakekat dan menurut kejadiannya bersedia dan sanggup memikul amanah [pada al-Ahzab : 72]. Di samping itu, hal yang juga penting implikasinya bagi pendidikan adalah tanggung jawab yang ada pada manusia bersifat pribadi, artinya tidaklah seseorang dapat memikul beban orang lain, beban itu dipikul sendiri tanpa melibatkan orang lain [pada Faathir:18]. Sifat lain yang ada pada manusia adalah manusia diberi oleh Allah kemampuan al-bayan [fasih perkataan – kesadaran nurani] yaitu daya untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang baik [pada ar-Rahman:3-4]. Pada hadits Rasulullah, “barang siapa ingin mencapai kebahagian dunia harus ditempuh dengan ilmu dan barang siapa yang mencari kebahagian akhirat juga harus dengan ilmu, dan barang untuk mencari keduanya juga harus dengan ilmu“. Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa tugas dan fungsi pendidikan adalah mengarhkan dengan sengaja segala potensi yang ada pada seseorang seoptimal mungkin sehingga ia berkembang menjadi seorang muslim yang baik. Kedua, peranan pendidikan atau pengarah perkembanagan. Potensi manusia yang dibawah sejak dari lahir itu bukan hanya bisa dikembangkan dalam lingkungan tetapi juga hanya bisa berkembang secara terarah bila dengan bantuan orang lain atau pendidik. Dengan demikian, tugas pendidik mengarahkan segala potensi subyek didik seoptimal mungkin agar ia dapat memikul amanah dan tanggung jawabnya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, sesuai dengan profil manusia Muslim yang baik. Ketiga, profil manusia Muslim. Profil dasar seorang Muslim yang baik adalah ketaqwaan kepada Allah. Dengan demikian, perkembangan anak haruslah secara sengaja diarahkan kepada pembentukan ketaqwaan. Keempat, metodologi pendidikan. Metodologi diartikan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya pada proses belajar-mengajar. Maka, pandangan bahwa seseorang dilahirkan dengan potensi bawaan tertentu dan dengan itu ia mampu berkembang secara aktif dalam lingkungannya, mempunyai implikasi bahwa proses belajar-mengajar harus didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif [student active learning] [Anwar Jasin, 1985:4-5]. fitrah yaitu dengan membawa “potensi khalifah dan mengabdi kepada Allah. khalifat dan muslim yang bertaqwa. Tetapi pada realitasnya pendidikan Islam, sebagaimana yang lazim dikenal di Indonesia ini, memiliki pengertian yang agak sempit, yaitu program pendidikan Islam lebih banyak menyempit ke-pelajaran fiqh ibadah terutama, dan selama ini tidak pernah dipersoalkan apakah isi program pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan telah sesuai benar dengan luasnya pengertian pendidikan menurut al-Qur’an dan hadits [ajaran Islam]. fitrah” atau potensi bawaan, misi dan tujuan hidup manusia. Karena rumusan tersebut akan menjadi ignorance] akan kedudukan dan peranannya dalam kehidupan “masyarakat madani” dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan Islam haruslah dapat meningkatkan mutu umatnya dalam menuju “masyarakat madani”. Kalau tidak umat Islam akan ketinggalan dalam kehidupan “masyarakat madani” yaitu masyarakat ideal yang dicita-citakan bangsa ini. Maka tantangan utama yang dihadapi umat Islam sekarang adalah peningkatan mutu sumber insaninya dalam menempatkan diri dan memainkan perannya dalam komunitas masyarakat madani dengan menguasai ilmu dan teknologi yang berkembang semakin pesat. Karena, hanya mereka yang menguasai ilmu dan teknologi modern dapat mengolah kekayaan alam yang telah diciptakan Allah untuk manusia dan diamanatkan-Nya kepada manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini untuk diolah bagi kesejahteraan umat manusia. tambal sulam atau dengan kata lain mengadopsi model yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum, artinya ada perasaan harga diri bahwa apa yang dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum dapat juga dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan agama, sehingga akibatnya beban kurikulum yang terlalu banyak dan cukup berat dan bahkan terjadi tumpang tindih. Abdurrahman an-Bahlawi, Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fi Baiti wal Madrasati wal Mujtama‘, Dar al-Fikr al-Mu’asyir, Beiru-Libanon, Cet. II, 1983., Terj., Shihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, Gema Insani Press, 1995.